get app
inews
Aa Text
Read Next : Dari Pelawak Menjadi Presiden, Seperti Ini Kekayaan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky

Tukar Popularitas dengan Bakti, Isa Bajaj Pulang Kampung Rawat Orang Tua

Minggu, 07 Juni 2026 | 07:43 WIB
header img
Kesetiaan sang istri menjadi salah satu kekuatan Isa Bajaj saat memilih keluarga di atas popularitas. (Foto: iNews Malang/@Isa Bajaj)

MAGETAN, iNewsMalang.id - Putaran roda hidup siapa yang tahu. Kalimat klise itu benar-benar diresapi oleh Isa Wahyu Prasantio. Bagi generasi pemirsa televisi, wajah pria kelahiran Magetan, 21 Desember 1981 ini jelas tidak asing. 

Dialah Isa Bajaj, seorang aktor dan pelawak berkebangsaan Indonesia yang dulunya mondar-mandir di layar kaca lewat berbagai sinetron stripping mentereng seperti Para Pencari Tuhan (PPT).

Isa memulai karier besarnya di panggung hiburan tanah air sebagai anggota Trio Bajaj bersama kedua rekannya, Melky dan Aden, lewat acara Audisi Pelawak TPI (API) pada tahun 2005. Lebih dari satu dekade namanya berkibar di Jakarta sebagai salah satu komedian papan atas.


Tak hanya membesarkan warungnya, Isa juga rutin mengenalkan kuliner lokal lain lewat media sosialnya. (Foto: iNews Malang/Satrijo)

Namun, pemandangan di sebuah sudut di selatan Alun-Alun Magetan belakangan ini menyajikan cerita yang jauh berbeda. Tidak ada lampu sorot studio atau kamera rolling. Yang ada justru aroma cabai segar yang menyengat hidung, kepulan uap sayuran yang baru matang, dan bunyi ulekan beradu dengan cobek batu.

Di sanalah kini Isa berada. Mengenakan pakaian kasual, tangannya lincah mengulek sambal khas Banyuwangi. Sejak beberapa tahun lalu, komedian berusia 45 tahun itu memilih “banting setir” total.

Isa pulang kampung ke Magetan, meninggalkan gemerlap Jakarta demi sebuah misi yang tak bisa dinilai dengan materi yakni merawat sang ibu tercinta.

Panggilan Bakti di Tengah Popularitas

Keputusan hijrah dari ibu kota bukan perkara mudah bagi seorang pekerja seni. Sejak 2018, Trio Bajaj sejatinya sudah melonggarkan komitmen tampil bertiga agar masing-masing personel bisa mengambil job eceran demi menghidupi keluarga.


Tomat ranti siap jadi sambal andalan Warung Eropa Magetan. (Foto: iNews Malang/@isabajaj)

 

Namun, titik balik sesungguhnya bagi Isa datang ketika kondisi kesehatan ibundanya menurun drastis dan harus menjalani cuci darah dua kali seminggu.

“Bolak-balik Jakarta–Magetan itu ngabisin waktu dan ongkos, padahal waktu itu kerjaan lagi enggak sepadat dulu,” kenang Isa dikutip dari kanal YouTube Pecah Telur.

Melihat situasi tersebut, sang istri justru menjadi sosok pertama yang menguatkan.

“Kamu pulang aja deh, kita pulang ke Magetan. Urus ibu, soal usaha dipikir di sana,” tiru Isa menirukan ucapan sang istri.

Awal kepulangannya dipenuhi momen emosional. Sang ibu sempat merasa bersalah dan khawatir akan masa depan ekonomi anak-cucunya karena memutus karier di Jakarta.


Bukan sembarang tomat, ini tomat ranti pilihan untuk menjaga cita rasa tetap juara. (Foto: iNews Malang/@Isabajaj)

Demi membesarkan hati sang ibu, Isa bahkan sempat “berbohong”. Ia pamit keluar rumah dengan alasan syuting konten YouTube yang menghasilkan uang, padahal saat itu akunnya sendiri belum menghasilkan sepeser pun.

Isa dengan telaten membopong ibundanya dari kasur ke mobil, lalu memandikannya saat kondisi sang ibu kian drop, hingga akhirnya sang ibu berpulang pada tahun 2023. Kini, ia melanjutkan bakti tersebut dengan menemani sang ayah yang tinggal sendiri.

Lahirnya 'Eropa': Es Karo Panganan

Merawat orang tua berjalan, namun tabungan lambat laun mulai terkuras. Sadar harus punya sumber penghasilan tetap, Isa mulai memutar otak. Ia bahkan rela menjual motor-motor tua koleksi kesayangannya asal Inggris dan Jerman untuk menyambung hidup dan modal usaha.

Sempat terombang-ambing selama setahun tanpa arah, ide bisnis itu akhirnya muncul dari obrolan bersama teman-teman SMA-nya di Magetan. “Gawe kuliner wae, Sah!” tiru Isa menirukan saran temannya.

Setelah melakukan survei kecil-kecilan, Isa mendapati satu menu yang belum ada di Magetan yakni Nasi Tempong. Padahal, Isa sama sekali tidak punya dasar kemampuan memasak. Ia murni hanya seorang pencinta kuliner.

Modal nekat dan jaringan membawanya berguru pada mekanik langganannya yang jago masak, serta meminta saran formula sambal kepada sahabat lamanya, King Abdi (alumnus MasterChef Indonesia). Dari kolaborasi itulah lahir sebuah tempat makan unik yang diberi nama nyeleneh: Warung Eropa.

“Orang mikirnya pasti jual makanan barat. Padahal Eropa itu singkatan dari Es karo Panganan (Es sama Makanan). Biar orang gampang ingat dan gampang kalau janjian,” selorohnya diiringi tawa khas.


Isa Bajaj sukses bangun Warung Eropa di Magetan, dari artis jadi pengusaha kuliner. (Foto: iNews Malang/@isabajaj)

Sejak awal, Isa berkomitmen pantang “menjual nama besar”. Di warungnya, tidak ada embel-embel nama “Bajaj”. Ia ingin pengunjung datang karena kepincut rasa, bukan karena penasaran ingin melihat artis.

Rahasia Tomat Ranti dan Gangguan Mistis

Konsep idealis Isa membuahkan hasil. Warung Eropa Magetan kini tak pernah sepi. Menariknya, pangsa pasarnya justru bergeser. Jika awal buka didominasi warga lokal, kini 60 persen pelanggannya merupakan pelancong luar kota seperti Madiun, Ponorogo, Surabaya, hingga Jogja, terutama saat akhir pekan atau libur panjang.

Salah satu rahasia kelezatan Nasi Tempong ala Isa Bajaj terletak pada bahan baku. Ia menggunakan Tomat Ranti (tomat mawar/jadul) yang sengaja dipasok dari Jember, bahkan kini ia sampai menyewa kebun sendiri untuk menanamnya.

“Tekstur air tomat ranti itu lebih sedikit dibanding tomat biasa, jadi kalau diulek enggak merusak racikan bumbu sambal dan enggak gampang berair,” jelas Isa yang setiap subuh pukul 05.30 sudah rutin belanja sendiri ke pasar desa.

Meski kini sukses berkembang hingga memiliki empat karyawan, jalan Isa tak selalu mulus. Ia sempat mencicipi “kerasnya” persaingan dunia kuliner daerah.

Ada momen tak masuk akal di mana banyak pelanggan melapor warungnya selalu tutup, padahal warungnya buka seperti biasa.

Di saat yang sama, omzetnya sempat terjun bebas hingga tak ada satu pun pelanggan yang datang, disusul temuan taburan bunga misterius di depan pintu warung.

“Hal-hal begitu bikin kaget, kok di dunia kuliner sampai begini? Tapi saya enggak mau cari tahu siapa, jalani saja,” tuturnya.

Beda Nominal, Menang Ketenangan

Jika bicara angka, Isa blak-blakan mengaku omzet warungnya saat ini tidak ada apa-apanya dibanding masa jayanya di dunia entertainment. 

Pendapatannya dari warung saat ini mungkin hanya berkisar 25 persen dari penghasilannya dulu. Menjadi bintang tamu televisi selama dua jam bisa setara dengan hasil warungnya selama dua minggu.

Namun, ada satu hal yang kini ia miliki dan tidak bisa dibeli dengan sekoper uang Jakarta yaitu ketenangan jiwa.

“Dulu di Jakarta selalu kepikiran rumah, orang tua gimana. Sekarang semua di depan mata. Ngurus anak, istri di sini, nemenin Bapak. Tenang sekali,” ungkapnya.

Isa kini menikmati hidup barunya sebagai pengusaha kuliner di kaki Gunung Lawu. Sambil sesekali menerima kontrak Brand Ambassador produk lokal, ia punya mimpi mandiri untuk membuka cabang Warung Eropa di kota lain seperti Surabaya atau Jogja, tentu dengan pengelolaan sendiri tanpa sistem franchise demi menjaga kualitas rasa.

Di akhir obrolan, Isa menyelipkan sebuah pesan mendalam bagi siapa saja yang masih memiliki orang tua.

“Bahagiakanlah waktu kalian bersama orang tua selagi ada. Membahagiakan itu bukan cuma soal kirim uang seperti pikiran saya dulu. Waktu dan perhatian langsung itu jauh lebih perlu,” pungkas pria berambup kriwul itu.

Editor : Ryan Haryanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut