Apel Batu Sekarat! DPRD Minta Pemkot Berhenti Basa-basi dan Segera Revitalisasi Lahan
KOTA BATU, iNewsMalang.id – Nasib komoditas apel di Kota Batu kian mengkhawatirkan. Luas lahan produktif yang terus menyusut membuat DPRD Kota Batu mendesak Pemkot Batu segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan komoditas ikonik tersebut.
Ketua DPRD Kota Batu M Didik Subiyanto meminta pemerintah tidak hanya fokus pada peremajaan tanaman, tetapi juga mempercepat regenerasi petani. Sebab, ancaman terhadap keberlanjutan apel Batu kini datang dari dua sisi sekaligus, yakni menyusutnya lahan dan minimnya petani muda yang siap melanjutkan usaha perkebunan apel.
Desakan itu muncul setelah Dinas Pertanian Kota Batu mencatat luas lahan apel produktif di kawasan sentra produksi seperti Bumiaji, Tulungrejo, dan Sumberbrantas terus berkurang. Kini, luas kebun apel yang masih bertahan hanya sekitar 740 hektare.
“Semangat petani apel, terutama di Kecamatan Bumiaji, masih cukup tinggi,” kata Didik, Kamis (18/6/2026).
Menurut dia, semangat tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan komoditas apel. Di sejumlah desa, petani masih berupaya mempertahankan kebun dengan mengembangkan wisata petik apel sebagai nilai tambah usaha mereka.
Namun, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Banyak pohon apel yang saat ini memasuki usia tidak produktif. Sebagian besar bahkan telah berumur lebih dari 40 tahun. Kondisi itu diperparah dengan perubahan iklim yang membuat serangan hama dan penyakit tanaman semakin sulit dikendalikan.
Data yang dihimpun menunjukkan tren penurunan lahan apel berlangsung cukup tajam. Pada masa kejayaannya di era 1980-an, luas kebun apel di Kota Batu mencapai sekitar 3.000 hektare. Angka tersebut turun menjadi 1.200 hektare pada 2020, lalu menyusut menjadi 1.092 hektare pada 2022, 1.044 hektare pada 2023, dan tersisa 740 hektare pada 2024.
Dengan demikian, dalam empat tahun terakhir, Kota Batu kehilangan sekitar 460 hektare lahan apel. Penurunan itu menjadi sinyal kuat perlunya langkah penyelamatan yang lebih serius.
Salah satu yang didorong DPRD adalah percepatan program revitalisasi kebun. Pohon-pohon tua yang produktivitasnya menurun perlu diganti dengan varietas yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan serangan hama.
Didik menilai kemunculan varietas Golden Analagi bisa menjadi alternatif untuk mendongkrak produksi. Karena itu, ia meminta kajian terhadap varietas tersebut segera dituntaskan.
“Varietas ini berpotensi menjadi solusi untuk meningkatkan produksi apel jika terbukti tahan hama dan produktif,” katanya.
Selain persoalan tanaman, DPRD juga menyoroti krisis regenerasi petani. Banyak petani apel saat ini sudah berusia lanjut, sementara minat generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian masih rendah.
Karena itu, Pemkot Batu diminta menyiapkan skema pendampingan, pelatihan, hingga insentif yang mampu menarik anak muda untuk menekuni pertanian modern. Menurut Didik, penyelamatan apel Batu tidak cukup dilakukan melalui program sektoral semata, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Sebab, apel tidak hanya menjadi komoditas pertanian, melainkan juga bagian dari identitas Kota Batu yang selama puluhan tahun melekat di mata masyarakat.
Editor : Ryan Haryanto