get app
inews
Aa Text
Read Next : Festival Bantengan di Kota Batu Jadi Magnet Wisata

Taklukkan Gugup di Atas Panggung, Santri Baru Al Izzah Batu Diuji Jadi Pemimpin

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 15:52 WIB
header img
Santri baru Al Izzah Batu taklukkan gugup, tampil berani, dan belajar jadi pemimpin. (Foto: iNews Malang/Robert A)

BATU, iNewsMalang.id – Naik panggung bukan perkara gampang. Apalagi bagi santri baru yang masih beradaptasi dengan lingkungan pesantren. Namun, rasa gugup itu justru menjadi tantangan yang harus ditaklukkan para santri SMA Al Izzah Batu.

Itu terlihat dalam Speech and Drama Contest Festival 2026 di Al Izzah Convention Center, Jumat (7/8/2026) malam. Para santri baru tampil berkelompok. Membawakan drama. Sekaligus menguji keberanian berbicara di depan publik.

Bukan cuma akting yang dinilai. Mereka harus menguasai panggung, menghayati karakter, membangun komunikasi dengan anggota kelompok, hingga menyampaikan pesan cerita kepada penonton.

Dalam pementasan, santri dituntut menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Bahasa Indonesia juga diperbolehkan sebagai bahasa resmi di lingkungan pesantren. Alhasil, panggung drama malam itu sekaligus menjadi ruang praktik bahasa asing.

Cerita yang dibawakan cukup beragam. Ada kisah inspiratif. Kehidupan sehari-hari. Sampai cerita yang menyelipkan pesan moral dan nilai-nilai keislaman.

Direktur Humas Mahad Al Izzah Aziz Effendy S.Si., M.Pd. menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Jati Diri (Projadi). Program itu memang disiapkan untuk santri baru SMA Al Izzah Batu.

“PROJADI merupakan program orientasi dan penguatan karakter awal yang dikhususkan bagi para santri baru SMA Al Izzah Batu. Motto kami Born To Be A Leader, artinya dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Kali ini temanya Spade (Speech and Drama),” jelas Aziz.

Menurut dia, Projadi menjadi tahap awal untuk mengenalkan kehidupan pesantren kepada santri. Sekaligus membentuk karakter mereka.

Ketakwaan, kemandirian, kecerdasan, dan jiwa kepemimpinan menjadi sasaran utama. Kedisiplinan hingga kemampuan literasi dan numerasi juga ikut diasah.

Salah satunya melalui Morning Math Activity. Santri juga dibiasakan beradaptasi dengan lingkungan pendidikan baru.

“Selain itu, program ini melatih kedisiplinan pesantren, peningkatan literasi-numerasi seperti Morning Math Activity, serta adaptasi lingkungan agar santri siap bersaing secara global,” tambahnya.

Nah, drama menjadi salah satu cara untuk menguji hasil proses tersebut.

Setiap kelompok tidak bisa asal tampil. Mereka harus menyusun konsep. Menyiapkan naskah. Membagi karakter. Latihan. Lalu tampil di hadapan penonton.

Sebagian besar dikemas dalam drama kolosal. Artinya, kekompakan menjadi harga mati. Satu pemain lengah, alur cerita bisa ikut terganggu.

Di situlah kemampuan lain ikut terasah. Public speaking, kepemimpinan, komunikasi, kerja sama tim hingga problem solving.

“Melalui seni peran, santri baru dilatih untuk keluar dari zona nyaman. Belajar public speaking, bekerja sama dalam tim, memecahkan masalah, serta memupuk tanggung jawab,” terangnya.

Bagi santri, panggung malam itu bukan sekadar arena mencari juara. Mereka belajar mengatasi gugup. Belajar berbicara di depan orang lain. Juga belajar menghargai peran teman satu tim.

Pesan yang dibawa pun tidak berhenti pada dialog. Nilai kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, kepedulian terhadap sesama, hingga nilai kehidupan dikemas dalam cerita yang mereka tampilkan.

Aziz menyebut Speech and Drama Contest Festival juga menjadi ajang implementasi jati diri santri.

“Acara ini menjadi wadah bagi para santri untuk membuktikan proses adaptasi dan rasa percaya diri mereka,” urainya.

Di penghujung acara, panitia mengumumkan para pemenang Drama Contest. Namun, semua peserta tetap mendapat apresiasi.

Sebab, keberanian untuk naik panggung sudah menjadi bagian dari kemenangan. Begitu pula proses panjang di baliknya.

Dari menyusun cerita, membagi peran, latihan bersama, menghadapi masalah, hingga akhirnya berdiri di hadapan penonton.

Semangat Born To Be A Leader pun tidak berhenti sebagai slogan. Di Al Izzah, semangat itu mulai dilatih sejak santri pertama kali menginjakkan kaki di lingkungan pesantren.

Editor : Ryan Haryanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut