Bromo Sunset Music and Culture Padukan Musik, Tari Tradisional, dan Live Painting
PROBOLINGGO, iNewsMalang.id - Bromo Sunset Music and Culture menghadirkan perpaduan musik modern, tari tradisional, dan seni rupa di Amfiteater Terminal Wisata Seruni Point, kawasan Gunung Bromo, Sabtu (10/10/2026). Ratusan pengunjung menikmati pertunjukan seni sambil menyaksikan panorama matahari terbenam.
Pengunjung datang dari berbagai daerah, mulai Surabaya, Bondowoso, hingga Probolinggo. Mereka menikmati penampilan musik Sunshine Entertainment, tari tradisional Sanggar Trigerta, serta aksi melukis langsung oleh seniman asal Kabupaten Probolinggo, Indra Lukmana.

Salah seorang pengunjung, Deni Aldila (44), asal Bondowoso, datang bersama keluarganya setelah mengetahui informasi acara tersebut melalui Instagram.
“Saya tahu acara Bromo Sunset ini dari Instagram. Makanya, saya tertarik datang langsung bersama keluarga untuk menonton,” ujar Deni kepada Bromo Today.

Mengusung tema Youth Golden Hour: Where Youth Meets Culture in Bromo, acara tersebut menghadirkan Sunshine Entertainment, grup band asal Probolinggo.
Lagu “Teman Tapi Mesra” menjadi pembuka penampilan mereka. Penonton ikut bernyanyi mengikuti irama lagu, sementara suasana panggung semakin ramai dengan aransemen musik lintas genre dan interaksi para personel band.
Pertunjukan berlangsung saat matahari mulai terbenam. Cahaya keemasan yang menyelimuti kawasan Bromo menambah suasana pertunjukan musik di amfiteater Seruni Point.
Pengunjung tidak hanya menikmati musik dari depan panggung. Sebagian ikut bernyanyi dan bergoyang mengikuti irama, menjadikan pertunjukan sebagai bagian dari pengalaman berwisata di kawasan Bromo.

Selain musik modern, Bromo Sunset Music and Culture menghadirkan kesenian tradisional melalui penampilan Sanggar Trigerta dari Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo.
Sanggar tersebut membawakan Tari Hadrah Kuntulan dan sendratari Prabu Linggih. Kedua pertunjukan itu memperkenalkan ragam ekspresi seni sekaligus unsur budaya yang berkaitan dengan Probolinggo.
Tari Hadrah Kuntulan merupakan kesenian yang berkembang di Banyuwangi. Pertunjukan ini memadukan gerak tari dengan iringan rebana yang kental dengan nuansa Islam dan budaya masyarakat Osing.
Selain unsur gerak dan musik, Hadrah Kuntulan mengandung nilai religius melalui puji-pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Kesenian tersebut juga menggambarkan kegembiraan dan rasa syukur masyarakat.
Perpaduan unsur Islam dengan tradisi lokal menjadikan Hadrah Kuntulan sebagai salah satu bentuk akulturasi budaya yang dapat dinikmati pengunjung di tengah kawasan wisata Bromo.
Sendratari Prabu Linggih Angkat Kisah Asal-Usul Probolinggo
Sanggar Trigerta juga membawakan sendratari Prabu Linggih yang mengangkat kisah asal-usul nama Probolinggo.
Dalam cerita yang dipentaskan, kisah tersebut berkaitan dengan perjalanan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit ke wilayah timur. Sang raja dikisahkan singgah untuk mengunjungi makam kerabatnya, Bre Gundal.
Selama berada di wilayah tersebut, Hayam Wuruk terkesan dengan keramahan masyarakat, hamparan sawah yang subur, serta bentang alam berupa pegunungan dan lautan.
Kedatangan rombongan kerajaan disambut dengan kegembiraan. Masyarakat digambarkan menari dan bernyanyi bersama sebagai bentuk penghormatan kepada sang raja.
Cerita itu dikemas melalui perpaduan gerak, musik, dan narasi sejarah. Melalui sendratari tersebut, pengunjung diajak mengenal kisah lokal Probolinggo melalui pertunjukan seni.

Seni rupa turut mewarnai Bromo Sunset Music and Culture melalui aksi live painting oleh Indra Lukmana. Seniman visual asal Krejengan, Kabupaten Probolinggo, itu melukis secara langsung di tengah rangkaian pertunjukan musik dan tari.
Indra telah aktif berkarya sejak 2009. Dalam perjalanan seninya, dia mengeksplorasi berbagai objek dan medium, mulai lukisan potret, wajah, pemandangan alam, hingga karya abstrak yang mengangkat kearifan lokal dan budaya.
Dia juga berkarya melalui mural, ilustrasi, chalk art, digital art, serta penciptaan karakter fantasi.
Dalam gelaran di Seruni Point, pengunjung dapat menyaksikan proses penciptaan karya secara langsung. Aktivitas tersebut menghadirkan pengalaman berbeda karena seni rupa dinikmati bukan hanya dari hasil akhir lukisan, tetapi juga dari proses pembuatannya.
Perpaduan musik Sunshine Entertainment, tari tradisional Sanggar Trigerta, sendratari Prabu Linggih, dan live painting Indra Lukmana mempertemukan berbagai bentuk ekspresi seni dalam satu panggung di kawasan Bromo.
Melalui Bromo Sunset Music and Culture, pengunjung dapat menikmati panorama Gunung Bromo sekaligus menyaksikan pertunjukan musik, kesenian tradisional, dan karya seniman lokal.
Editor: Ryan Haryanto