Atlet Panjat Tebing Kota Probolinggo Gugur dalam Karhutla Bromo, Ini Rekam Jejaknya di Porprov
PROBOLINGGO, iNewsMalang.id - Sefril Ardiansyah (19), menjadi salah satu korban meninggal dalam kebakaran hutan dan lahan (Karhutla Bromo) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kamis (15/10/2026).
Atlet panjat tebing Kota Probolinggo itu gugur saat berjuang memadamkan api secara manual bersama petugas dan relawan lain.
Sefril berada di kawasan Blok Mentigen dan Pusung Lingker, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Selain aktif sebagai atlet Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI Kota Probolinggo), pemuda kelahiran 2007 itu bekerja sebagai karyawan Artotel Cabin Bromo.
Kabar kebakaran di sekitar tempat kerjanya membuat pelatih FPTI Kota Probolinggo, Iwan Rosyidi, khawatir. Sejak Kamis siang, dia berusaha menghubungi Sefril melalui telepon seluler. Namun, hingga sore, tak ada jawaban.
“Saya nge-chat HP-nya Sefril jam 14.00 WIB karena wilayah itu tempat kerjanya. Tidak bisa dihubungi sampai jam 16.00 WIB, lalu kemudian ada nama Sefril di daftar korban,” kata Iwan saat di RSUD Tongas.
Iwan kemudian membantu proses identifikasi dengan menyampaikan ciri-ciri fisik anak didiknya kepada tim antemortem DVI. Salah satu penanda yang paling diingat adalah gelang Tridatu di pergelangan tangan kiri Sefril. Selain itu, ada bekas luka di bagian kaki.
Gelang tersebut terlihat dalam foto saat Sefril berkumpul bersama rekan-rekan atlet pada Jumat sebelumnya.
“Kami juga ingat bekas luka di kakinya karena anak-anak sering berenang bersama. Gelang itu jadi penanda paling jelas,” ujarnya.
Di luar prestasinya di arena panjat tebing, Sefril dikenal sebagai pemuda tekun dan pendiam. Dia bahkan sempat meraih beasiswa melalui jalur Silver Ticket di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Namun, keterbatasan biaya membuatnya memilih bekerja di kawasan Bromo setelah lulus sekolah pada 2026. Keputusan itu menjadi salah satu kenangan yang membekas bagi Iwan.
“Sebenarnya dia dapat beasiswa Silver Ticket dari UNESA, tapi karena keterbatasan pendanaan, dia memilih bekerja di hotel tersebut,” tutur Iwan.
Meski bekerja, Sefril tidak meninggalkan dunia panjat tebing. Setiap mendapat libur, dia menyempatkan diri kembali ke GOR A. Yani, Kota Probolinggo, untuk membantu melatih atlet-atlet junior.
Sefril juga dikenal dekat dengan adik-adik tingkatnya. Dia kerap membimbing mereka berlatih, bahkan membantu mengajari adiknya menjadi imam salat.
“Kalau Salat Magrib dia sering ngimami karena bacaannya paling bagus di antara atlet-atlet lain. Kami tidak hanya kehilangan atlet, tetapi kehilangan anak dan partner melatih,” kenang Iwan.
Sefril bukan atlet tanpa prestasi. Dia turut menyumbangkan medali bagi kontingen Kota Probolinggo pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2023 dan 2025.
Harapan untuk kembali memperkuat Kota Probolinggo pada Porprov Jatim 2027 pun masih ada. Saat bertemu di GOR A. Yani pada Jumat sebelumnya, Iwan sempat menanyakan kesiapan Sefril untuk kembali bertanding.
Menurut Iwan, Sefril menjawab siap. Keduanya bahkan sempat membicarakan penyesuaian jadwal latihan dengan jam kerjanya di hotel.
Kini, rencana itu tinggal kenangan. Kepergian Sefril menjadi kehilangan besar bagi keluarga dan komunitas panjat tebing Kota Probolinggo.
“Takdir berkata lain. Semoga Sefril diberikan tempat terbaik di sisi-Nya,” ucap Iwan.
Sefril menjadi satu dari empat korban meninggal dalam tragedi karhutla Bromo yang melibatkan petugas TNBTS, sekuriti, dan relawan.
Editor: Ryan Haryanto