Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : 22 Hektare Hutan Argopuro Bondowoso Terbakar, Perhutani Gencarkan Patroli
Advertisement . Scroll to see content

Karhutla Kembali Terjadi di Arjuno-Welirang, 5 Titik Dilaporkan Terbakar

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 14:51 WIB
  • author Robert Ardian
Karhutla Kembali Terjadi di Arjuno-Welirang, 5 Titik Dilaporkan Terbakar
Kebakaran melanda lereng Gunung Arjuno-Welirang, petugas masih berupaya memadamkan api. (Foto: iNews Malang/Robert Ardian)

PASURUAN, iNewsMalang.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda lereng Gunung Arjuno-Welirang di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Api terpantau sejak Jumat (16/10/2026) dan membakar sejumlah titik di kawasan hutan konservasi.

Hingga Sabtu (17/10/2026), petugas masih melakukan pemadaman secara manual di lokasi yang bisa dijangkau. Penyebab kebakaran dan luas lahan yang terbakar belum diketahui.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariadi mengatakan, kebakaran terpantau sejak Jumat pukul 11.00 WIB. Lokasinya berada di wilayah Resor Konservasi Wilayah 03, meliputi Desa Jatiarjo dan Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen.

Sejumlah titik yang terbakar antara lain Puthuk Bulak, Guo Gambir, Tungwulung, Anjat, dan Gunung Ringgit.

Petugas melakukan pengendalian api dengan membuat sekat bakar dan pemadaman manual, terutama di Puthuk Bulak dan Tungwulung. Personel yang terlibat berasal dari Taman Hutan Raya Raden Soerjo, polisi hutan, Manggala Agni, dan relawan.

Sugeng mengatakan, jumlah personel ditambah untuk mempercepat pengendalian api di lokasi yang dapat dijangkau.

“Sudah ada tambahan regu untuk pengendalian kebakaran dan pemadaman,” ujarnya, Sabtu (17/10/2026).

Kebakaran terlihat dari ruas Tol Pandaan-Malang pada Jumat malam. Dari kejauhan, kobaran api tampak kemerahan membentuk garis memanjang dari atas ke bawah, kemudian melebar ke sisi kiri dan kanan.

Sejumlah pengendara merekam kejadian tersebut dan membagikan videonya di media sosial. Namun, pada Sabtu pagi, kawasan Gunung Arjuno-Welirang tertutup kabut sehingga tidak terlihat jelas.

643 Titik Panas Terdeteksi di Jawa Timur

Di tengah kebakaran tersebut, data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Sidoarjo, mencatat 643 titik panas di Jawa Timur.

Sebanyak 53 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 518 titik berkategori sedang, dan 63 titik berkategori rendah.

Lima kabupaten dengan jumlah titik panas terbanyak adalah Bondowoso, Probolinggo, Mojokerto, Jember, dan Lumajang.

Berdasarkan Fine Fuel Moisture Code (FFMC) atau indeks kemudahan terbakar dalam sistem peringkat bahaya kebakaran hutan, sebagian besar wilayah Jawa Timur berada dalam kategori sangat mudah terbakar. Kondisi ini menunjukkan bahan bakar halus, seperti rumput dan dedaunan kering, mudah tersulut jika terkena sumber api.

Tragedi Karhutla Bromo Jadi Peringatan

Sementara itu, kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang menewaskan empat petugas dan relawan menjadi pengingat tingginya risiko pemadaman karhutla.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia Daryono mengatakan, tragedi tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat standar keselamatan petugas di lapangan.

Empat korban meninggal dunia adalah Sukaris (55) dan Hendra Rony Wagiyanata (25), petugas TNBTS, serta Wisnu Yuda Pratama (25) dan Sefriel Ardiansyah (19), karyawan swasta yang menjadi relawan. Dua orang lainnya mengalami luka bakar.

Menurut Daryono, keselamatan personel harus menjadi prioritas dalam setiap operasi pemadaman. Karena itu, keberanian petugas perlu didukung prosedur keselamatan yang ketat dan peralatan memadai.

“Keselamatan petugas merupakan prioritas yang tidak boleh ditawar,” ujarnya.

Dia menjelaskan, penilaian risiko harus dilakukan sebelum operasi, termasuk memeriksa arah angin, kondisi cuaca, jenis vegetasi, kemiringan lereng, dan pergerakan api. Tim juga harus menyiapkan jalur evakuasi, lokasi aman, serta prosedur mundur jika kebakaran tidak terkendali.

Penggunaan alat pelindung diri, kecukupan air minum dan makanan, serta pengaturan waktu istirahat juga perlu diperhatikan untuk mencegah kelelahan dan penurunan konsentrasi.

Selain itu, komunikasi antarpersonel, kejelasan komando, pemantauan kondisi lapangan, dan kesiapan pertolongan medis harus menjadi bagian dari prosedur pemadaman.

Daryono menambahkan, pimpinan operasi dan instansi yang menugaskan personel bertanggung jawab terhadap keselamatan petugas. Setiap kejadian yang menimbulkan korban perlu dievaluasi untuk memperbaiki sistem perlindungan dalam operasi karhutla.

Dia menyebut prinsip tersebut sejalan dengan standar keselamatan pemadaman kebakaran hutan yang dikembangkan National Wildfire Coordinating Group.

Editor: Ryan Haryanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut