Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Trans Jatim Koridor 2 Malang Siapkan 15 Bus dan 56 Titik Pemberhentian, Ini Rutenya
Advertisement . Scroll to see content

Berawal dari Curhat Orang Tua, Rinda Puspasari Tulis Buku tentang Kehidupan Perempuan

Minggu, 25 Oktober 2026 | 20:39 WIB
  • author Avirista Midaada
Berawal dari Curhat Orang Tua, Rinda Puspasari Tulis Buku tentang Kehidupan Perempuan
Rinda Puspitasari menunjukkan buku Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas saat peluncuran di Malang. (Foto: iNews Malang/Avirista Midaada)

MALANG, iNewsMalang.id - Kegelisahan melihat perempuan muda menghadapi berbagai persoalan kehidupan menginspirasi Rinda Puspasari menulis buku berjudul Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas. Buku tersebut diluncurkan di Kota Malang, Sabtu (24/10/2026) malam.

Melalui buku itu, Rinda mengajak perempuan memahami perubahan fisik, emosional, hingga konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil ketika beranjak dewasa.

Ide penulisan buku tersebut berawal dari cerita seorang teman yang kesulitan menghadapi perubahan sikap anak perempuannya. Anak yang sebelumnya dikenal penurut mulai menunjukkan perubahan perilaku setelah memasuki masa remaja dan mengenal lawan jenis.

“Ketika mulai mengenal lawan jenis, perubahan sikapnya membuat orang tuanya kewalahan dan tidak lagi mudah memahami apa yang terjadi,” kata Rinda saat peluncuran buku.

Pengalaman tersebut membuat alumni Universitas Brawijaya (UB) itu mempertanyakan kesiapan anak perempuan menghadapi kehidupan dewasa.

Menurut Rinda, anak yang selama ini dikenal penurut, berprestasi, dan memiliki perilaku baik belum tentu siap mengambil keputusan secara mandiri.

Sebab, memasuki usia dewasa bukan sekadar persoalan bertambahnya umur. Perempuan juga menghadapi perubahan emosi, ketertarikan terhadap lawan jenis, hingga keinginan untuk dicintai dan diterima.

Rinda menilai pendidikan, nilai agama, dan nasihat orang tua memang menjadi bekal penting. Namun, bekal tersebut perlu disertai kemampuan memahami diri sendiri dan mempertimbangkan konsekuensi setiap tindakan.

“Ketika anak mulai memiliki kehendaknya sendiri, persoalannya ternyata jauh lebih rumit,” ujarnya.

Karena itu, melalui buku Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas, Rinda ingin mengajak pembaca membangun kesadaran sebelum mengambil keputusan penting dalam kehidupan.

Dia mengaku kerap menemukan cerita perempuan yang menyesali keputusan masa lalunya. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan dirinya menulis buku ini.

“Saya melihat banyak perempuan yang akhirnya menyesal. Sebelum itu terjadi, saya ingin mereka sadar terhadap setiap keputusan yang diambil,” katanya.

Buku tersebut tidak hanya memuat pengalaman pribadi Rinda. Sejumlah kisah dari orang-orang di sekitarnya juga menjadi bahan refleksi dalam penulisan.

Sebagai seorang ibu yang memiliki anak perempuan, Rinda mencoba melihat persoalan dari dua sudut pandang. Yakni, pengalaman perempuan dalam menjalani kehidupannya dan tanggung jawab orang tua dalam mendampingi anak.

Pembahasan dalam buku itu disusun berdasarkan fase kehidupan perempuan. Mulai masa pubertas, menstruasi, memasuki usia dewasa, hingga menjadi seorang ibu.

Rinda juga mengulas perubahan hormonal yang dapat memengaruhi kondisi fisik, emosi, serta cara perempuan merespons berbagai persoalan.

“Buku ini saya tulis mulai dari fase menstruasi sampai menjadi ibu. Bahkan setelah menjadi ibu, perubahan hormonal masih bisa memengaruhi keputusan seseorang,” tuturnya.

Meski judulnya secara khusus menyebut perempuan berusia 17 tahun ke atas, Rinda berharap buku tersebut juga dibaca laki-laki dan orang tua.

Menurutnya, pemahaman mengenai perubahan yang dialami perempuan penting dimiliki orang-orang di sekitarnya. Dengan begitu, mereka dapat lebih memahami kondisi perempuan sejak masa pubertas hingga dewasa.

“Tidak hanya perempuan, laki-laki juga perlu membaca buku ini agar memahami fase kehidupan yang dialami perempuan,” katanya.

Bagi Rinda, tugas orang tua bukan hanya mengajarkan anak mematuhi aturan. Lebih dari itu, orang tua perlu mempersiapkan anak agar mampu menentukan pilihan secara mandiri ketika dewasa.

Dia mengingatkan bahwa pengawasan orang tua memiliki batas. Pada akhirnya, setiap anak harus mampu memahami dirinya sendiri sekaligus bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.

“Anak yang penurut belum tentu sudah siap memilih. Kita tidak mungkin menjaga anak perempuan selamanya hanya dengan pagar. Suatu hari ia harus mempunyai kompasnya sendiri,” ucap Rinda.

Editor: Ryan Haryanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut