Pukau Ribuan Penonton LIRA Fest 2026, Wandra Resturian Ternyata Berprestasi Sejak Sekolah
PROBOLINGGO, iNewsMalang.id - Wandra Resturian menjadi salah satu daya tarik LIRA Fest 2026 di Stadion Bayuangga, Kota Probolinggo, Sabtu (24/10/2026) malam. Penyanyi asal Banyuwangi itu menghibur ribuan penonton dengan sejumlah lagu populernya, termasuk Kelangan yang membuat penggemar ikut bernyanyi.
Penampilan Wandra bersama orkes One Nada menjadi bagian dari konser memperingati Hari Sumpah Pemuda. Di balik aksinya di Kota Probolinggo, pemilik nama lengkap Ainur Rofik Wandra Resturian itu memiliki perjalanan panjang dalam industri musik daerah, khususnya musik Osing Banyuwangi.
Wandra bukan nama baru bagi pencinta musik dangdut koplo dan lagu berbahasa Osing. Sejumlah karyanya dikenal luas, tidak hanya di Banyuwangi, tetapi juga di berbagai daerah di Jawa Timur.

Penyanyi kelahiran Banyuwangi, 15 Juni 1995, itu dikenal melalui lagu Kelangan, Ngobong Ati, Lintange Ati, Lawang Ati, hingga Roso Welas. Lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari perjalanan kariernya sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu.
Wandra lahir dan dibesarkan di Dusun Krajan, Desa Kebaman, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi. Dia merupakan putra pasangan Tusiana dan Indriyati serta memiliki seorang adik bernama Wendri Dewi Fitrianingrum.
Lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia seni turut memengaruhi ketertarikannya terhadap musik sejak kecil. Kemampuan bernyanyi dan memainkan alat musik kemudian diasah melalui berbagai kegiatan serta penampilan di panggung lokal.
Bakat Wandra semakin terlihat ketika menempuh pendidikan di SMAN 1 Cluring, Banyuwangi. Dia pernah meraih juara pertama kontes menyanyi tingkat Jawa Timur untuk kategori penyanyi solo putra.
Kemampuannya tidak terbatas pada olah vokal. Pada 2012, Wandra juga meraih penghargaan best drummer dalam ajang di Politeknik Banyuwangi.
Pengalaman tersebut menjadi modal bagi Wandra untuk menekuni industri musik secara lebih serius. Dia tidak hanya tampil sebagai penyanyi, tetapi juga mengembangkan kemampuan menciptakan lagu dan menggarap musik.
Perjalanan karier Wandra Resturian tidak lepas dari upayanya membangun kemandirian dalam berkarya. Dia memiliki studio musik di rumahnya untuk menunjang aktivitas produksi.
Melalui One Nada Record, Wandra mengembangkan karya dengan memadukan karakter musik daerah Banyuwangi, dangdut, dan koplo.
Salah satu lagu yang melekat dengan namanya adalah Kelangan. Lagu berbahasa Osing tersebut dikenal melalui lirik bertema kehilangan dan hubungan asmara.
Selain Kelangan, Wandra juga dikenal melalui Ngobong Ati, Lintange Ati, Lawang Ati, dan Roso Welas. Karya lainnya antara lain Cinta Dibalik Nada, Wes Kadung Sumpah, serta Bedo Agomo.
Lagu-lagu tersebut banyak mengangkat kisah percintaan dan pengalaman emosional dalam kehidupan sehari-hari. Karakter itulah yang membuat karya Wandra dekat dengan pendengarnya.
Dalam perjalanan kariernya, Wandra juga memiliki kelompok penggemar bernama One Lovers. Dukungan mereka menjadi bagian dari kiprahnya di berbagai panggung hiburan.
Popularitas Wandra terlihat ketika tampil dalam LIRA Fest di Stadion Bayuangga, Kota Probolinggo. Ribuan penonton memadati kawasan stadion untuk menyaksikan konser bertema “Satu Nada, Satu Semangat untuk Indonesia” tersebut.
Sejumlah musisi dan kelompok musik ikut meramaikan acara. Di antaranya Pasukan Sukaria, Poppy Oxcelia, Soulvia, Budak Koplorat, Amyno, Wach Feat Bantengan, serta Lala Widy bersama One Nada.
Saat Wandra membawakan Kelangan, penonton ikut menyanyikan lagu tersebut. Salah satunya Wati (27), warga Kelurahan Jrebeng Kidul, Kota Probolinggo.
Wati mengaku memiliki kedekatan emosional dengan lagu tersebut. Baginya, lirik Kelangan menggambarkan pengalaman seseorang yang harus menerima kenyataan ketika hubungan asmara tidak berjalan sesuai harapan.
“Liriknya sesuai dengan perasaan saya. Meski berdesakan dan lelah, semuanya terbayar bisa bernyanyi bersama ribuan penonton,” ujar Wati.
Meski harus berdesakan dengan penonton lainnya, Wati tetap menikmati penampilan penyanyi idolanya tersebut.
Lagu Kelangan menjadi salah satu karya Wandra yang dikenal karena liriknya menggunakan bahasa Osing. Meski demikian, lagu tersebut juga mendapat tempat di kalangan pendengar dari luar Banyuwangi.
Penampilan Wandra di LIRA Fest juga meninggalkan kesan bagi Arifany Nur Safitri. Perempuan yang bertugas sebagai pembawa acara atau MC itu mengaku bangga bisa terlibat dalam kegiatan sekaligus menyaksikan langsung penampilan musisi idolanya.

“Ada kebanggaan tersendiri bisa menjadi MC saat Mas Wandra tampil. Saya suka semua lagunya,” ucap Fany.
Bagi Arifany, kesempatan tersebut memiliki kesan tersendiri. Selain menjalankan tugas memandu acara, dia dapat melihat penampilan Wandra dari dekat.
LIRA Fest sendiri digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah penampilan musik dan rangkaian acara yang melibatkan berbagai pihak.
Agenda juga mencakup sambutan Presiden LIRA dan Wali Kota Probolinggo. Rangkaian kegiatan berlangsung hingga malam dan ditutup dengan seremoni sekitar pukul 22.00 WIB.
Kehadiran Wandra bersama sejumlah musisi lainnya menjadi bagian dari hiburan yang disuguhkan kepada masyarakat Kota Probolinggo dan sekitarnya.
Perjalanan Wandra menunjukkan bahwa musik berbahasa daerah memiliki pendengar di luar wilayah asalnya. Lagu-lagu Osing yang dibawakannya tidak hanya dinikmati masyarakat Banyuwangi, tetapi juga penggemar musik dangdut koplo dari berbagai daerah.
Sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu, Wandra terus mengembangkan karya melalui studio dan label musiknya sendiri.
Penampilannya di LIRA Fest Probolinggo menjadi salah satu panggung yang mempertemukannya dengan penggemar di luar Banyuwangi.
Dari panggung lokal hingga konser yang dihadiri ribuan penonton, Wandra tetap dikenal melalui karakter vokal dan lagu-lagu berbahasa Osing yang menjadi bagian dari identitas musikalnya.
Editor: Ryan Haryanto