MALANG, iNewsMalang.id - Perempuan asal Malang mencatat sejarah literasi dalam bidang buku. Dua buku sekaligus diluncurkan oleh Rinda Puspasari, dengan judul 'Di bawah Langit yang bukan Milikku' dan 'Koi dari Kolam Kaisar ke Nusantara : Jejak Waktu dan Rahasia Gigi yang Berbisik'.
Peluncuran dua buku berkarakter berbeda ini memang cukup unik. Di buku 'Di Bawah Langit yang bukan Milikku' mengisahkan bagaimana kehidupan sehari-hari Rinda Puspasari sendiri sang penulis yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga (IRT). Di buku tersebut penulis mengajak pembaca menyelami kisah kehidupannya.
Sementara di buku 'Koi dari Kolam Kaisar ke Nusantara', perempuan berusia 47 tahun itu mendeskripsikan koi dengan lebih santai dan dipahami. Pengalamannya meneliti ikan koi ketika kuliah dan bergelutnya di bidang pendidikan menjadikannya mengambil koi jadi referensi tulisan bukunya.
Rinda Puspasari penulis dua buku menyatakan, menulis merupakan bagian dari pribadinya dan hobinya. Bahkan ketika ia beristirahat dan meluangkan waktu, Rinda memilih menuangkan ide - idenya dalam bentuk tulisan di depan perangkat elektronik yang dirangkum menjadi satu tulisan buku.
"Hari ini suatu hal tentang keberanian utk menulis yang sering kita lupakan. Saya percaya buku tidak cukup ditentukan tapi ditemukan memberi kesempatan agar gagasan di buku ini bisa sampai ke pembaca," kata Rinda Puspasari, saat peluncuran dua buku miliknya, pada Senin malam (9/2/2026).
Menurutnya, ia berusaha menawarkan sudut pandang lain dari buku yang ditulisnya. Dari sisi ikan koi misalnya, ada beberapa hal yang dinilai orang tidak diketahui sehingga memunculkan keinginannya berangkat dari riset, pengetahuan, dan interaksinya dengan koi ke dalam suatu buku.
"Koi kaisar itu dengan latar berbeda, berangkat dari riset sejarah, geologi, budaya dan ekonomi. Namun itu saya jadikan satu. Di sini koi saya jadikan subjek, bukan objek yang bisa menjadikan peradaban yg mengingatkan kita bahwa manusia bisa belajar tentang dirinya sendiri, melalui produk lain," ucapnya.
Rinda menjelaskan, bagaimana prosesnya menyusun suatu buku ikan koi itu. Bahkan ia rela melakukan riset ke komunitas ikan koi, membandingkan beberapa jurnal ilmiah, hingga mewancarai pelaku usaha koi di daerah Garum, Blitar. Dari hasil studi ringannya itu ia rupakan menjadi buku yang disusunnya dalam waktu satu tahun.
"Saya sebelumnya sudah tulis dan buat gagasannya, dari situ muncul dan berkembang idenya. Saya riset, saya juga datangin tempatnya. Memang kalau orang akademik menilai buku koi ini kurang ilmiah dalam penulisannya, tapi tujuan saya menulis ini agar orang lain bisa memahami dengan mudah," jelasnya.
Sedangkan di buku 'Di Bawah Langit yang bukan Milikku' ia menawarkan sudut pandang lain mengenai pembelajaran hidup tanpa kehilangan identitas diri. Buku ini disebut berawal dari pengalaman pahit manisnya hidup yang ia jalani, termasuk ketika ia menyadari bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari orang tuanya.
"Saya baru tahu setelah 46 tahun, bahwa saya punya leluhur jenderal polisi seperti itu. Saya baru tahu kalau saya bukan anak kandung itu setelah usia 23 tahun dan saya rahasiakan itu sampai umur 46. Jadi semua yang ada di situ saya nggak berani kalau itu fiktif itu malah membuat celaka saya," tegasnya.
Dua buku ini juga menggebrak budaya literasi di Indonesia yang dinilainya memang masih rendah. Kehadiran dua buku yang ringan dibaca diharapakan mampu mengedukasi masyarakat umum mengenai koi dan makna kehidupan. Menariknya meskipun ada edukasi dan nilai yang menarik dari dua bukunya, baginya tak masalah bila buku yang ditulisnya tak laku.
"Saya nggak mau buku saya dalam bentuk elektrik, saya mau mendidik warga, saya ingin orang Indonesia membuka buku, bukan HP, saya tidak pernah memikirkan buku itu akan laku, berapapun yang saya dapatkan itu saya terima," tuturnya .
"Mungkin efeknya bukan sekarang, mungkin saat ini tidak laku melihat buku saya, tapi kalau 5, 10, atau 20 tahun lagi mungkin buku saya menjadi referensi bagi masyarakat. Kalau kita tidak melakukan apa-apa tentu perubahan tidak akan terjadi bangsa Indonesia, tidak akan pernah berubah," pungkasnya.
Editor : Avirista Midaada
Artikel Terkait
