get app
inews
Aa Text
Read Next : EO Belum Ditetapkan, Rangkaian Acara Semipro 2026 Sudah Tersebar

Evakuasi Dramatis Pendaki Semeru, Petugas Tarik Korban dari Jurang 375 Meter

Jum'at, 05 Juni 2026 | 21:42 WIB
header img
Tim SAR gabungan mengevakuasi pendaki yang jatuh ke jurang 375 meter di Semeru. (Foto: iNews Malang/istimewa)

MALANG, iNewsMalang.id – Upaya penyelamatan seorang pendaki Gunung Semeru yang terperosok ke jurang sedalam sekitar 375 meter berlangsung penuh tantangan. Hingga Jumat (5/6/2026), tim SAR gabungan masih berjibaku mengevakuasi korban berinisial C (18), dari lereng barat Semeru yang memiliki kemiringan ekstrem.

Proses evakuasi telah berlangsung sejak Kamis malam (4/6/2026). Sejumlah personel Basarnas diturunkan langsung ke lokasi ditemukannya korban di dasar jurang. Sejak saat itu, petugas bekerja tanpa henti untuk membawa korban naik menuju titik aman di atas tebing.

Medan yang sangat curam menjadi hambatan utama. Tim penyelamat harus mengandalkan sistem tali yang diikatkan pada tebing dan vegetasi di sekitar lokasi.

Dalam beberapa kesempatan, petugas bahkan terpaksa beristirahat sambil tetap tergantung di dinding tebing dengan kemiringan mendekati 80 derajat.

Kondisi semakin berat karena lokasi jatuhnya korban berada di sisi barat Gunung Semeru yang bukan merupakan jalur pendakian resmi. Jalur tersebut dipenuhi vegetasi rapat sehingga memperlambat proses pergerakan tim dan peralatan evakuasi.

Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, menjelaskan bahwa proses pengangkatan korban menggunakan metode slope rescue yang lazim diterapkan pada operasi penyelamatan di medan miring.

“Pendaki tersebut diposisikan dengan keadaan terlentang di flexible atau rolling stretcher, kemudian diamankan dengan sistem tali,” kata Nanang Sigit saat dikonfirmasi, Jumat (5/6/2026).

Menurut dia, metode tersebut dipilih karena lebih aman bagi korban maupun petugas yang terlibat dalam operasi penyelamatan.

Meski demikian, proses penarikan tetap dilakukan secara hati-hati mengingat risiko kerusakan tali apabila bergesekan dengan benda tajam di sepanjang jalur tebing.

“Dari jurang, survivor dievakuasi naik dengan slope rescue menuju titik kumpul tim di atas. Kemudian dari atas akan ditandu untuk turun menuju ke posko,” jelasnya.

Nanang menambahkan, karakter medan yang terjal membuat metode slope rescue menjadi pilihan paling efektif. Sistem ini memungkinkan proses evakuasi dilakukan secara bertahap sambil menjaga keselamatan korban dan tim.

Selama perjalanan menuju atas tebing, korban dibungkus dengan pelindung khusus untuk mengurangi risiko hipotermia akibat suhu dingin pegunungan.

Petugas juga mendampingi di sisi kanan dan kiri korban guna memantau kondisinya sekaligus memberikan makanan dan minuman.

“Proses evakuasi dilakukan dengan menarik survivor dengan pangawalan di sisi kanan dan kirinya. Proses penarikan dilakukan secara bergantian dan memerlukan kewaspadaan mengingat medan yang terjal dan curam,” ujarnya.

Selain itu, kaki korban dipasang bidai untuk membatasi pergerakan dan mencegah pembengkakan bertambah parah selama proses evakuasi berlangsung.

Operasi penyelamatan juga sempat menghadapi gangguan berupa aktivitas erupsi Gunung Semeru. Abu vulkanik yang beberapa kali bergerak ke arah barat menambah tingkat kesulitan tim di lapangan.

Nanang memperkirakan korban tiba di posko evakuasi pada Jumat malam apabila kondisi cuaca dan fisik seluruh personel tetap mendukung. Namun, waktu tempuh masih bergantung pada perkembangan situasi di lapangan.

“Proses evakuasi hingga tiba di Posko diperkirakan selesai pada Jumat (5/6/2026) malam dengan melihat kondisi fisik survivor maupun tim SAR gabungan dan juga cuaca di lokasi. Kalau lancar estimasi 8 - 10 jam perjalanan,” pungkasnya.

Editor : Ryan Haryanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut