get app
inews
Aa Text
Read Next : Arema Beber Kendala Kelola Stadion Kanjuruhan, Soal Aset hingga Biaya Perawatan

Iwan Budianto Bongkar Cerita di Balik Kandang Arema FC Tanpa Flare Sepanjang Musim

Kamis, 03 September 2026 | 20:10 WIB
header img
CEO Arema FC Iwan Budianto. (Foto: iNews Malang/Dok)

MALANG, iNewsMalang.id - Tidak ada flare. Tidak ada benda berbahaya yang menyala dari tribune. Tidak pula insiden yang berujung sanksi Komite Disiplin. Catatan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Arema sepanjang laga kandang musim lalu.

CEO Arema FC Iwan Budianto bahkan memberi apresiasi khusus kepada Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Arema Erwin Hardiyono beserta jajarannya. Menurut pria yang akrab disapa IB itu, menjaga seluruh pertandingan kandang tetap steril dari insiden bukan pekerjaan mudah.

Apalagi, pengamanan terakhir diuji saat Arema menjamu PSIM Yogyakarta pada pekan ke-34 Super League 2025-2026. Laga itu menjadi pertandingan penutup musim dan berpotensi diwarnai euforia berlebihan dari tribune.

IB mengaku sampai beberapa kali menghubungi General Manager Arema Yusrinal Fitriandi pada malam sebelum pertandingan. Pesannya satu: pastikan tidak ada flare yang lolos masuk stadion.

Inal, sapaan Yusrinal, sempat menyampaikan bahwa pertandingan tersebut merupakan laga terakhir musim. Ada anggapan pesta flare bisa menjadi bagian dari euforia Aremania. Namun, IB menolak kompromi.

“Mereka gak pernah mengalami Tragedi Kanjuruhan. Kita mengalami. Hasilnya apa? Kita zero accident sampai akhir musim,” kata IB dalam podcast di kanal YouTube Arema.

Ketegasan itu membuahkan hasil. Sepanjang musim, Arema mampu menggelar pertandingan kandang tanpa sanksi akibat flare maupun insiden lain yang sebelumnya kerap menjadi sumber denda dari Komdis.

Bagi IB, capaian tersebut tidak sekadar soal lolos dari hukuman. Ada proses edukasi yang mulai berjalan di kalangan Aremania tentang risiko penggunaan flare di dalam stadion.

Menurutnya, flare bukan sekadar alat pendukung atmosfer pertandingan. Benda tersebut memiliki potensi membahayakan orang-orang di sekitarnya, termasuk dari asap yang ditimbulkan.

“Flare itu barang berbahaya. Asapnya saja bisa mengganggu orang-orang di sekitarnya,” imbuhnya.

IB mengaku masih mengingat sebuah kejadian pada medio 2000-an. Seorang Aremania mengalami kecelakaan akibat flare hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit. IB bahkan datang langsung menjenguk korban.

Pengalaman itu membuatnya tidak ingin penggunaan flare dianggap sebagai simbol keberanian atau bagian wajib dari budaya suporter.

“Sudahlah, lupakan flare. Jangan untuk gagah-gagahan. Di negara yang mengizinkan flare pun, pertandingan dihentikan sampai asapnya hilang,” tegasnya.

Menurut IB, penggunaan flare di sejumlah negara berlangsung dengan standar dan pengawasan ketat. Sementara karakter bahan yang digunakan di Indonesia bisa berbeda dan berpotensi menimbulkan bahaya.

“Kalau kena hujan atau kondisi lain, bahan flare bisa bereaksi dan membahayakan, bahkan meledak,” terangnya.

Karena itu, keberhasilan laga terakhir musim lalu menjadi perhatian khusus bagi IB. Dia menilai Panpel Arema berhasil menjaga pertandingan tetap aman meski keinginan menyalakan flare diyakini masih ada di kalangan suporter.

IB pun secara terbuka memberikan penghormatan kepada Erwin Hardiyono dan tim Panpel. Menurutnya, laga kandang terakhir tanpa flare merupakan sebuah prestasi tersendiri.

“Saya angkat topi untuk Pak Erwin. Arema bisa menggelar laga terakhir tanpa flare. Bukan karena Aremania tidak ingin, tetapi karena Panpel berhasil menjaganya tetap aman. Bagi saya, itu prestasi,” pungkasnya.

Catatan zero accident itu kini diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian satu musim. IB ingin standar pengamanan tersebut menjadi kebiasaan baru setiap kali Singo Edan bermain di kandang.

Editor : Ryan Haryanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut