Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : BMKG Telusuri Dentuman yang Terdengar di Malang Raya, Sensor Geofisika Ikut Dicek
Advertisement . Scroll to see content

Malang Raya Menuju Megapolitan, Desa Tak Bisa Hanya Jadi Pemasok Bahan Mentah

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:32 WIB
  • author Taufik Hidayat
Malang Raya Menuju Megapolitan, Desa Tak Bisa Hanya Jadi Pemasok Bahan Mentah
Malang Raya Megapolitan perlu menghubungkan potensi desa dengan pusat ekonomi perkotaan. (Foto: iNews Malang/Dok)

MALANG, iNewsMalang.id - Malang Raya punya modal untuk berkembang menjadi kawasan megapolitan. Namun, pembangunan jalan dan infrastruktur saja tak cukup.

Potensi desa harus terhubung dengan pusat perdagangan, industri, teknologi, dan pasar agar pertumbuhan ekonomi tak hanya terkonsentrasi di perkotaan.

Kepala Bakorwil III Malang Asep Kusdinar menyampaikan hal itu saat menjadi dosen praktisi bagi mahasiswa Program Doktor Universitas Brawijaya (UB), Selasa (13/10/2026).

Menurut Asep, setiap wilayah di Malang Raya memiliki kekuatan berbeda. Kota Malang berkembang dengan pendidikan tinggi, perdagangan, jasa, dan ekonomi kreatif.

Kota Batu mengandalkan pariwisata dan hortikultura. Sementara Kabupaten Malang memiliki potensi pertanian, perkebunan, industri, kehutanan, perikanan, hingga wisata alam.

Potensi tersebut, kata dia, perlu saling terhubung agar menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.

Desa tidak cukup hanya memasok bahan mentah ke kota, tetapi juga harus memiliki kemampuan mengolah komoditas dan meningkatkan nilai jualnya.

“Megapolitan bukan sekadar perluasan kota, tetapi keterkaitan ekonomi desa dan kota,” ujar Asep.

Pengembangan itu membutuhkan dukungan teknologi, pembiayaan, distribusi, dan akses pasar. Hasil pertanian, perkebunan, peternakan, maupun perikanan perlu diolah agar memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan lebih luas.

Asep juga melihat keberadaan 67 perguruan tinggi di Malang Raya sebagai peluang untuk memperkuat ekonomi perdesaan.

Riset kampus dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, membantu digitalisasi UMKM, serta mengembangkan produk lokal.

Dengan begitu, desa tak hanya menjadi penyedia bahan baku, tetapi juga pelaku ekonomi yang memperoleh manfaat lebih besar dari rantai produksi.

Selain pengolahan produk, pengembangan Malang Raya Megapolitan juga dapat bertumpu pada ekonomi hijau dan ekonomi biru. Potensi pertanian berkelanjutan, kopi robusta, serta hortikultura bisa dikembangkan bersama upaya konservasi lingkungan.

Di wilayah pesisir selatan, perikanan, pengolahan hasil laut, dan pariwisata bahari menjadi sektor yang dapat dikembangkan dengan tetap menjaga ekosistem.

Di sisi lain, keberadaan Jalan Tol Pandaan–Malang dan Jalur Lintas Selatan (JLS) membuka akses antardaerah. Namun, akses yang semakin mudah perlu diikuti kesiapan pelaku usaha lokal dalam menyediakan produk berkualitas dan menjangkau pasar.

Karena itu, pengembangan kawasan ini memerlukan kerja sama pemerintah daerah, pemerintah desa, perguruan tinggi, dan dunia usaha. Tanpa keterhubungan tersebut, potensi tiap wilayah berisiko berkembang sendiri-sendiri.

Asep menilai, ukuran keberhasilan Malang Raya Megapolitan bukan hanya konektivitas antardaerah, melainkan juga sejauh mana hubungan ekonomi desa dan kota mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Editor: Ryan Haryanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut