Kembalikan Kejayaan Anggur Probolinggo, Kopling Ingin Bangkitkan Lagi Kejayaannya

Ryan Haryanto
Anggota Kopling, H. Muhib, memperlihatkan buah anggur hasil budi dayanya di Jrebeng Lor. (Foto: iNews Malang/Ryan Haryanto)

PROBOLINGGO, iNewsMalang.id - Anggur bukan sekedar komoditas buah di Probolinggo. Buah ini menjadi salah satu ikon daerah. Bahkan, gambar mangga dan anggur tercantum dalam lambang Pemerintah Kota maupun Kabupaten Probolinggo.

Namun, keberadaan anggur sebagai komoditas unggulan daerah mulai meredup. Kondisi itu membuat Komunitas Pembudidaya Anggur Probolinggo (Kopling) bergerak.

Mereka ingin mengembalikan kejayaan anggur melalui pengembangan wisata edukasi dan produk olahan.


Sejumlah anak mengunjungi kebun anggur yang berpotensi dikembangkan menjadi wisata edukasi di Jrebeng Lor, Kota Probolinggo. (Foto: iNews Malang/Ryan Haryanto)

Upaya tersebut tidak lagi bertumpu pada produksi buah segar dalam jumlah besar. Kopling justru membidik nilai ekonomi dari wisata, keindahan tanaman, hingga pengolahan hasil panen.

Litbang Kopling Hari Purwanto mengatakan, pola budi daya anggur perlu diubah. Sebab, mengandalkan hasil panen untuk bersaing di pasar buah segar dinilai sulit. Terlebih, produk impor dari Tiongkok, Vietnam, dan Thailand turut meramaikan pasar.

Hari merupakan lulusan Kimia Universitas Brawijaya (UB) Malang. Saat ini, dia bekerja di divisi riset salah satu perusahaan pupuk terkemuka di Surabaya.

“Kalau hanya mengejar tonase, kita kalah value. Yang harus digali dari Probolinggo adalah keindahan, estetika, dan potensi wisatanya,” ujar Hari.

Menurut dia, kebun anggur bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi. Wisatawan tidak hanya menikmati buah, tetapi juga belajar mengenai budi daya hingga pengolahannya.

Konsep tersebut sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha lokal. Terutama melalui pengembangan produk turunan anggur yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Sejumlah produk pun mulai dibidik. Mulai dodol, permen, selai, hingga peyek daun anggur. Namun, Hari menilai pengolahan sari buah atau jus anggur perlu menjadi prioritas.

“Kuncinya ada di jus anggur. Kalau ekstraksi sari buah berhasil, produk olahan lainnya bisa dikembangkan,” katanya.

Pengolahan tersebut diharapkan menjadi solusi ketika produksi anggur melimpah. Dengan begitu, hasil panen tidak seluruhnya bergantung pada penjualan buah segar.


Anggota Komunitas Kopling berkumpul di kebun anggur untuk berbagi pengalaman budi daya. (Foto: iNews Malang/Ist)

Selain menjaga nilai ekonomi, pengembangan industri olahan juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan.

Hari menyebut, dari sisi budi daya, anggota Kopling sudah memiliki kemampuan mengembangkan nutrisi dan pemupukan organik secara mandiri. Karena itu, mereka tidak ingin bergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintah.

“Ada dukungan pemerintah atau tidak, kami tetap bergerak melestarikan anggur Probolinggo,” tegasnya.

Meski demikian, pihaknya berharap ada kebijakan daerah yang sejalan dengan upaya pengembangan komoditas tersebut. Terutama untuk mengintegrasikan budi daya anggur dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Miliki 115 Anggota, Rintis 10 Gerai

Sementara itu, Ketua Kopling Mohammad Joko mengatakan, komunitas tersebut terbentuk pada 2022 di Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Awalnya, para pehobi anggur saling berinteraksi melalui media sosial.


Pembudidaya menunjukkan hasil panen anggur yang dikembangkan di Probolinggo. (Foto: iNews Malang/Dok Pribadi)

Joko merupakan lulusan Pertanian Agribisnis Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Dari komunikasi tersebut, mereka kemudian menggelar pertemuan. Hingga akhirnya sepakat membentuk komunitas sebagai wadah berbagi pengetahuan dan pengalaman budi daya anggur.

Kini, Kopling memiliki 115 anggota dan 27 pengurus. Mereka tersebar di wilayah Kota dan Kabupaten Probolinggo.

“Kopling menjadi wadah berbagi pengetahuan. Mulai perbanyakan bibit, perawatan, sampai penanganan penyakit tanaman,” kata Joko.

Menurut dia, tantangan budi daya anggur semakin kompleks. Salah satunya akibat perubahan iklim yang turut memengaruhi kondisi tanaman.

Karena itu, pertukaran pengalaman antaranggota menjadi bagian penting dalam meningkatkan keberhasilan budi daya.

Berbagai varietas anggur kini dikembangkan anggota Kopling. Selain mempertahankan varietas lokal Prabu Bestari, mereka membudidayakan Jupiter, Goz-V, Transfigurasi, Jubile, hingga Everest.

Penanamannya pun beragam. Ada yang langsung di lahan, ada pula yang menggunakan sistem tanaman buah dalam pot atau tabulampot.

Untuk memperkuat kegiatan anggota, Kopling juga menyiapkan pembentukan 10 gerai stock point. Rinciannya, lima gerai di Kabupaten Probolinggo dan lima lainnya di Kota Probolinggo.

Gerai tersebut nantinya menyediakan berbagai kebutuhan budi daya anggur. Mulai sarana perawatan hingga perlengkapan pendukung lainnya.

Tidak berhenti di situ, Kopling juga berencana menggelar kontes tanaman anggur secara berkala. Kegiatan tersebut diharapkan menarik minat masyarakat sekaligus meningkatkan keterampilan anggota dalam menata tanaman.

Joko berharap, berbagai langkah itu bisa mengembalikan anggur sebagai salah satu identitas Probolinggo. Bukan hanya dikenal karena sejarahnya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Anggur bukan hanya cerita masa lalu Probolinggo. Ada peluang ekonomi dan wisata yang bisa dikembangkan,” pungkasnya.

Editor : Ryan Haryanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network