Body Lebih Kekar, Motor Trail Listrik Karya Siswa SMK Nasional Malang Melaju Tanpa Suara

Avirista Midaada
.
Sabtu, 13 Agustus 2022 | 06:56 WIB
Motor trail listrik karya siswi SMK Nasional Malang layak trail secara umum (Foto: MPI)

MALANG, iNewsMalang.id - Sepeda motor trail listrik dengan merek Cassa karya SMK Nasional ini layaknya trail pada umumnya. Siswa SMK Nasional Malang sukses membuat motor trail listrik dari besi olahan sendiri. Hanya butuh waktu kurang dari dua minggu untuk menyelesaikan motor tersebut.

Bahkan dari sisi bentuk bodinya terllihat lebih kekar daripada sepeda motor trail yang kerap ditemukan di tengah-tengah masyarakat. Menariknya lagi, sepeda motor trail listrik ini melaju tanpa menimbulkan efek suara.

Bahkan pengendara motor trail listrik Cassa bisa melaju tanpa harus melakukan perpindahan gigi layaknya trail yang ada saat ini. Sistem kendali sepeda motor trail listrik ini menyerupai sepeda motor matic yang sekali memutar gas langsung berjalan.

Penampakan motor trail listrik buatan Siswa SMK Nasional Malang. (Avirista Midaada).

Penampakan motor trail listrik buatan Siswa SMK Nasional Malang. (Avirista Midaada)

Kepala SMK Nasional Rusdi mengungkapkan, seluruh pengerjaan sepeda motor trail ini dikerjakan oleh para siswanya didampingi empat orang guru pembimbing. Dimana empat jurusan di SMK Nasional dilibatkan untuk proses pembuatan sepeda motor trail listrik ini dengan brand Cassa. 

"Kami buatnya sendiri mandiri semua, mulai siswa beli ke toko besi gelondongan, merakit sendiri mulai dari bodi, sparepart, kami buat sendiri, kecuali skok dan velg. Selain itu, mulai listrik sampai bodi perakitan sepeda motor kami kerjakan semuanya, bukan karya satu jurusan, tapi ada empat jurusan," kata Rusdi, Jumat (12/8/2022).

Para siswa ini nantinya membuat bagian dari masing-masing sepeda motor berdasarkan jurusan keahliannya masing-masing. Dari empat jurusan yang dilibatkan yakni teknik kendaraan ringan otomotif (TKRO), teknik dan bisnis sepeda motor (TBSM) dan teknik permesinan (TPM), dan teknik instalasi listrik (Till) masing-masing jurusan mengirimkan dua orang siswanya, artinya ada delapan orang siswa dan empat guru pendamping yang dilibatkan.

Proses pembuatan sepeda motor listrik ini dimulai dari pembuatan kerangka atau bodi sepeda motor yang dibuat jurusan teknik kendaraan ringan otomotif (TKRO) yang melakukannya.

Sedangkan untuk urusan desain dan mesin yang menjadi penggerak sepeda motor dipercayakan pada teknik dan bisnis sepeda motor (TBSM) dan teknik permesinan (TPM). Siswa pun memulai membuat kerangka sepeda motornya dari besi gelondongan yang dibelinya.

Kemudian para siswa dibantu guru pendamping mendesain sedemikan rupa sepeda motor di laboratorium bengkel yang ada di sekolah di Jalan Raya Langsep, Kota Malang ini. Guru pendamping ini mengawasi pembuatan bagian sepeda motor masing-masing yang berbeda-beda.  

"Baterainya dan perangkat kelistrikannya dibuatkan siswa juga semua buat sendiri, yang buat siswa jurusan listrik untuk baterai dan kelistrikannya. Baterai kita buat sendiri, rencana mau dibuat bulat pakai paralon tapi kesulitan dengan bodi akhirnya dibuat kotak disesuaikan dengan bodinya," kata Rusdi.

Rusdi menerangkan, untuk baterai yang digunakan bahan baku utama penggerak sepeda motor dipasang dengan kekuatan 60 volt 26 ampere. Baterai ini diklaim mampu bertahan hingga jarak 100 kilometer. Dengan baterai sebesar 60 volt 26 ampere diklaim mampu menghasilkan 3.000 watt listrik bagi sepeda motor.

"Jarak tempuh kondisi baterai full kecepatan konstan 40 kilometer per jam adalah 50 kilometer. Lama pengecasan hanya perlu 3 jam sampai full 100 persen. Kalau lama pengecasan 10 persen sampai full 100 persen 5-6 jam," katanya.

Sepeda motor ini diklaim telah aman dan layak dikendarai di jalan raya dan medan terjal sesuai spesifikasi sepeda motor trail pada umumnya. Bahkan, uji kelayakan khusus dilakukan oleh SMK Nasional di kawasan Bedengan, yang memiliki medan terjal dan bebatuan.

Hasilnya sepeda motor ini terbukti mampu bergerak lincah di medan terjal, hingga kemiringan 45 derajat ini. Di medan terjal dengan kemiringan 20-40 derajat sepeda motor trail mampu digeber hingga kecepatan 20-40 kilometer per jam. "Kalau untuk jalan lurus datar bisa sampai kecepatan 100 kilometer per jam. Satu sepeda motor trail listrik memerlukan biaya produksi Rp25 - 27 juta," ucap dia.

Saat ini pihaknya memang belum memproduksi massal sepeda motor trail listrik. Pasalnya fokus saat ini yakni pematenan merek Cassa yang menjadi merek sepeda motor listrik produksi SMK Nasional.  "Kita konsentrasi hak paten Insya Allah hak paten kita temukan Cassa bahasa Ibrani bahasa Maroko artinya unggul. Pematenan dulu, minimal nama dulu, investor tidak datang kalau tidak ada nama. Rencana 17 Agustus hak paten bisa keluar," ujarnya.

Kini pihaknya juga masih memikirkan untuk mencarikan isi daya alternatif selain menggunakan stop kontak yang dicolokkan ke listrik. Salah satu energi alternatif yakni membuat power bank untuk pengisi daya di saat motor kehabisan tenaga di momen-momen darurat.

"Saat ini masih kami kembangkan untuk power bank, dengan daya 60 volt, sesuai dengan baterainya itu. Biar lebih mudah tanpa harus mencari sumber listrik ketika kehabisan di jalan," katanya.

iNews Malang


 

Editor : Arif Handono
Bagikan Artikel Ini