Pesona Gili Ketapang: Dari Surga Bawah Laut hingga Tradisi Unik ‘Ngater Kajien’
PROBOLINGGO, iNewsMalang.ID – Pulau Gili Ketapang tidak hanya sebagai titik kecil di tengah Selat Madura. Bagi para pelancong, pulau di Kecamatan Sumberasih ini adalah surga tersembunyi dengan hamparan pasir putih dan kejernihan air yang memikat.
Namun, di balik keindahan alamnya, pulau Gili Ketapang menyimpan kekuatan budaya yang tetap kokoh di tengah arus modernisasi.
Daya tarik utama Gili Ketapang terletak pada kekayaan bawah lautnya. Aktivitas snorkeling menjadi menu wajib bagi wisatawan yang datang. Di sini, pengunjung bisa berenang bersama ribuan ikan Nemo yang menari di antara terumbu karang yang masih terjaga.
Arus laut yang relatif tenang dan air yang bening kristal menjadikan lokasi ini favorit bagi penyelam pemula maupun fotografer bawah air.
Tak hanya itu, sisi timur pulau menawarkan fenomena pasir timbul yang memanjang ke tengah laut saat air surut, menciptakan latar belakang foto yang estetik.
Wisata kuliner ikan bakar khas pesisir yang segar langsung dari tangkapan nelayan setempat menjadi penutup sempurna setelah seharian beraktivitas di laut.
Keunikan Gili Ketapang tidak berhenti pada bentang alamnya saja. Baru-baru ini, kekentalan adat masyarakat setempat kembali terlihat dalam tradisi Ngater Kajien (Ngantar Jemaah Haji). Pada Selasa (21/4/2026), warga pulau ini menunjukkan solidaritas luar biasa saat mengantar 32 calon jemaah haji menuju Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo.
Tradisi turun-temurun ini menjadi bukti bahwa nilai gotong royong dan spiritualitas masyarakat pesisir belum luntur.
Sebanyak 15 perahu dikerahkan untuk membawa sekitar 500 warga menyeberangi lautan. Iring-iringan perahu ini menciptakan pemandangan yang heroik sekaligus mengharukan di tengah laut.
“Ikut Ngater Kajien ini ya supaya bisa ketularan. Biar suatu saat bisa naik haji juga,” cetus Siti Nuraisah, salah satu warga yang ikut dalam rombongan.
Setibanya di pelabuhan, suasana berubah syahdu dengan lantunan selawat dan talbiyah yang menggema. Bagi warga, momen ini sebagai ajang mencari berkah dan memanjatkan doa bersama.
Data dari Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo mencatat, 32 calon jemaah haji asal Gili Ketapang tersebut terbagi dalam dua kelompok terbang (kloter) di Embarkasi Surabaya, yakni 12 orang di Kloter 2 dan 20 orang lainnya di Kloter 3.
Secara total, Kabupaten Probolinggo memberangkatkan 1.119 jemaah tahun ini. Menariknya, ritual warga tidak berhenti di pelabuhan. Setelah melepas para calon jemaah, sebagian besar warga melanjutkan perjalanan spiritual dengan berziarah ke Makam Sunan Ampel di Surabaya hingga ke berbagai makam wali di Pulau Madura.
Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo mengapresiasi kelestarian tradisi ini. Di tengah perubahan zaman, Ngater Kajien tetap menjadi identitas khas Gili Ketapang, sebuah harmoni antara pengabdian kepada Tuhan dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
Editor : Ryan Haryanto