Setengah Kasus Kebakaran di Kota Malang Dipicu Korsleting Listrik, Ini Rincian Datanya!
KOTA MALANG, iNewsMalang.id – Memasuki musim kemarau, warga Kota Malang diminta lebih waspada terhadap potensi kebakaran rumah maupun bangunan. Gangguan instalasi listrik masih menjadi penyebab utama kebakaran yang terjadi di wilayah tersebut sepanjang 2025.
Berdasarkan data UPT Pemadam Kebakaran Kota Malang, tercatat 118 peristiwa kebakaran sejak awal tahun hingga Mei 2026. Dari jumlah itu, 59 kasus atau sekitar 50 persen dipicu korsleting listrik.
Kepala UPT Pemadam Kebakaran Kota Malang, Pandu Rizki Darmawan, mengatakan cuaca panas dan kering saat musim kemarau membuat api lebih cepat membesar dan mudah merambat ke bangunan lain.
“Selama musim kemarau, masyarakat diminta lebih waspada dan menghindari kelalaian yang bisa memicu kebakaran,” ujar Pandu, Rabu (20/5/2026).
Menurut Pandu, sejumlah kebakaran berawal dari hal sederhana yang kerap diabaikan masyarakat. Misalnya, penggunaan kabel listrik yang tidak layak, sambungan listrik berlebih, hingga perangkat elektronik yang tetap terhubung ke sumber listrik saat tidak dipakai.
Selain korsleting listrik, kebakaran di Kota Malang juga dipicu kebocoran gas elpiji sebanyak 16 kasus. Sementara itu, 15 kejadian lainnya disebabkan kelalaian manusia.
UPT Pemadam Kebakaran Kota Malang juga mencatat lima kasus kebakaran terjadi akibat unsur kesengajaan. Ada pula lima kejadian lain yang dipicu rambatan api maupun panas ekstrem selama musim kemarau.
Pandu meminta masyarakat rutin memeriksa kondisi instalasi listrik di rumah untuk memastikan tidak ada kabel rusak atau sambungan yang berpotensi memicu percikan api.
Warga juga diimbau mencabut perangkat elektronik saat tidak digunakan serta memeriksa kondisi kompor, regulator, dan tabung LPG secara berkala.
“Jangan membakar sampah sembarangan saat musim kemarau, terutama ketika angin kencang karena bisa memicu kebakaran,” ucap Pandu.
Ia menyebut, upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan angka kebakaran di Kota Malang. Sebab, sebagian besar insiden sebenarnya masih bisa diantisipasi sejak dini melalui peningkatan kewaspadaan masyarakat.
Editor : Ryan Haryanto