Demi Anak dan Orang Tua yang Sakit, Bidan Yunis Jalani Hidup Bolak-Balik Krucil-Malang
MALANG, iNewsMalang.id – Di bawah bayang-bayang Gunung Argopuro, saat kabut mulai turun menyelimuti Desa Watupanjang, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, seorang perempuan tangguh kerap terlihat memacu sepeda motornya membelah jalan setapak yang rusak.
Ia adalah Yunis Ike Novitasari, bidan desa kelahiran 1992 asal Kepanjen, Malang, yang tak pernah menyerah menghadapi jarak, medan ekstrem, dan rasa rindu yang kerap menyiksa dada.
Bagi Yunis, Krucil bukan sekadar tempat mengabdi sejak 2022 usai lolos seleksi CPNS 2021. Krucil menjadi ruang ujian bagi keteguhan hatinya sebagai istri, ibu, anak, sekaligus garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat.

“Dulu, saya memilih Krucil saat mendaftar CPNS karena sadar diri. Pesaingnya banyak, dan saya pikir daerah pegunungan seperti Krucil mungkin jarang diminati,” kenang Yunis.
Ia mengaku memilih Krucil semata-mata demi memperbaiki ekonomi keluarga. Saat itu, dirinya sama sekali belum mengetahui bagaimana kondisi Krucil sebenarnya.

Kini, Watupanjang telah menjadi rumah keduanya. Desa yang indah, tetapi menyimpan tantangan alam yang berat yakni jalanan penuh batu hingga ancaman longsor yang kerap terjadi tepat di samping rumah dinasnya.
Tantangan terbesar Yunis di Krucil ternyata bukan hanya medan terjal, melainkan benteng tebal bernama mitos. Di kawasan ini, kepercayaan terhadap hal-hal mistis atau rekburek (pengobatan alternatif spiritual lokal) masih sangat mengakar.
Yunis menceritakan salah satu pengalaman paling memilukan sepanjang kariernya. Suatu hari, ada bayi berusia tiga bulan mengalami demam tinggi selama sepekan. Alih-alih dibawa ke fasilitas kesehatan, keluarga justru sibuk mencari rekburek ke berbagai tempat.

“Saya dekati keluarganya pelan-pelan tanpa menghakimi. Akhirnya bayi itu dibawa ke rumah sakit, tapi sudah terlambat dan meninggal dunia. Kejadian itu sangat membekas bagi saya,” lirih Yunis.
Cerita lain datang pada suatu malam pekat. Ponselnya berdering, mengabarkan seorang ibu hendak melahirkan dalam kondisi darurat. Dengan keberanian yang tersisa, Yunis menembus gelap malam seorang diri, melewati jalanan makadam yang rusak.
Sesampainya di lokasi, sang ibu sudah dalam kondisi melahirkan (mbrojol), namun keluarga bersikeras menolak dibawa ke puskesmas. Lewat negosiasi dan pendekatan persuasif yang sabar, Yunis akhirnya berhasil mengevakuasi ibu dan bayi tersebut dengan selamat.
Di balik ketegarannya menyelamatkan nyawa orang lain, Yunis menyimpan perjuangan personal yang luar biasa. Ia hidup dalam lingkaran long distance relationship berlapis. Suaminya bertugas di PLN Surabaya, anak-anaknya berada di Malang, sementara dirinya harus bertahan sendiri di Krucil tanpa sanak saudara.
Puncak ujian hidupnya terjadi saat menjalani kehamilan berisiko tinggi yakni hamil kembar dengan tekanan darah tinggi. Tanpa suami di sisi, ia hanya bersandar pada bantuan rekan-rekan kerjanya di Puskesmas Krucil.
Tak berhenti di situ, bakti Yunis sebagai seorang anak juga diuji ketika sang ibu jatuh sakit di Malang dan harus menjalani kontrol rumah sakit dua kali dalam seminggu. Jadwal piket dan urusan keluarga ia sulap menjadi ritme perjalanan yang menguras fisik dan mental.
“Pulang piket pagi dari Krucil, saya langsung bertolak ke Malang. Sampai di rumah magrib, jam 18.30 langsung mengantar Ibu kontrol ke rumah sakit. Besok subuhnya, jam 04.00, saya sudah harus motoran lagi balik ke Krucil demi kewajiban,” tutur Yulis.
“Belum lagi kalau anak saya di Malang tiba-tiba sakit, saya harus riwa-riwi Probolinggo-Malang yang jarak tempuhnya 4 jam perjalanan,” tambahnya.
Di Desa Watupanjang, Yunis dipaksa keadaan untuk tidak boleh terlihat lemah. “Saya di desa dituntut harus kuat, harus berani. Sendirian.”
Meski lelah lahir dan batin, dedikasi Yunis mulai membuahkan hasil. Kini, akses kesehatan warga Watupanjang jauh lebih baik. Sebulan sekali, Yunis bersama perawat desa membuka Posyandu Prolanis di setiap dusun.
Mereka menjemput bola, mendatangi titik-titik pemukiman yang paling sulit dijangkau agar lansia dan warga lebih mudah berobat.
Bagi Yunis, kebahagiaan terbesar yang menjadi penawar seluruh letihnya adalah melihat senyum pasien yang berhasil sembuh atau mendengar tangis bayi yang lahir dengan selamat.
“Ketika saya bisa membantu warga, rasanya bangga luar biasa. Mungkin saya jauh dari orang tua, jauh dari anak dan suami. Tapi di sini, saya tahu ilmu saya bermanfaat langsung untuk warga sekitar. Saya mendedikasikannya untuk mereka,” ucapnya bangga.
Saat ditanya bagaimana ia mampu bertahan sejauh ini, Yunis menarik napas panjang. Ia tidak menampik bahwa dirinya manusia biasa yang bisa rapuh.
“Rasa ingin menyerah itu pasti ada. Tapi saya yakin, Tuhan menaruh saya jauh dari keluarga pasti ada hikmahnya. Saya percaya akan ada takdir indah pada waktunya,” katanya optimis.
Keteguhan bidan berusia 34 tahun itu tak lepas dari pondasi kokoh bernama keluarga. Dukungan tanpa henti dari sang suami, doa tulus orang tua, dan pengertian anak-anaknya menjadi bahan bakar utama bagi Yunis untuk terus mengabdi.
Dari Yunis Ike Novitasari, kita belajar bahwa membagi waktu dengan keluarga bukan sekadar soal kehadiran fisik yang konstan. Lebih dari itu, tentang kualitas doa, besarnya rasa saling mendukung, dan bagaimana ketidakhadiran fisik dibayar tuntas lewat pengabdian yang memuliakan nama keluarga di tengah masyarakat.
Editor : Ryan Haryanto