get app
inews
Aa Text
Read Next : Tiga Calon Dukun Pandita Tengger Jalani Ujian Sakral di Puncak Kasada 2026

Jelang Yadnya Kasada Bromo, Warga Tengger Gelar Ritual Mendak Tirta di Madakaripura

Sabtu, 30 Mei 2026 | 07:28 WIB
header img
Perjalanan ritual Mendak Tirta suku Tengger di Madakaripura, Probolinggo, jelang Yadnya Kasada Bromo Bromo. (Foto: iNews Malang/Ryan H)

PROBOLINGGO, iNewsMalang.id – Masyarakat Hindu suku Tengger memulai rangkaian sakral menjelang upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo dengan menggelar ritual Mendak Tirta, Jumat (29/5/2026).

Puluhan warga berjalan kaki menyusuri kawasan Air Terjun Madakaripura, Desa Nogorejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, untuk mengambil air suci sebagai simbol penyucian diri dan alam semesta.

Prosesi tahunan ini menjadi tahapan wajib sebelum puncak Yadnya Kasada di Pura Luhur Poten, kawasan lautan pasir Bromo.

Sambil membawa sesaji hasil bumi, warga melantunkan doa dengan khidmat. Bagi komunitas Tengger, Mendak Tirta merefleksikan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi Wasa.

Usai doa bersama, para pandita adat mengambil air dari sumber mata air di tebing air terjun. Hadir dalam kegiatan itu Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto, sesepuh Tengger Supomo dan Suprapto, serta sejumlah tokoh adat.


Warga Tengger berdoa dan memberi penghormatan di depan patung Gajah Mada saat ritual Mendak Tirta. (Foto: iNews Malang/Ryan H)
 
Ritual dipimpin pemangku Desa Ngadas, Slamet. Setelah pembacaan mantra, sebagian sesaji dilarung ke aliran sungai. Air suci yang terkumpul kemudian disimpan dalam wadah khusus untuk dibawa ke Pura Luhur Poten.

Pemilihan Air Terjun Madakaripura memiliki latar sejarah kuat. Lokasi ini diyakini sebagai tanah perdikan pemberian Raja Hayam Wuruk kepada Patih Gajah Mada, sebagaimana tercatat dalam Kitab Negarakertagama.

Masyarakat Tengger meyakini kawasan tersebut sebagai tempat moksa sang patih pemersatu Nusantara, sehingga airnya dianggap membawa berkah dan kesucian leluhur.

Tradisi Kasada berakar dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger (Tengger). Dalam kisahnya, demi mendapatkan keturunan, keduanya berjanji mengorbankan anak ke-25, Raden Kusuma, ke kawah Bromo.

Sebelum masuk kawah, Raden Kusuma berpesan agar keturunannya rutin melarung hasil bumi setiap bulan Kasada sebagai bentuk rasa syukur.

Pemerintah daerah menyatakan komitmennya menjaga kelestarian tradisi tersebut agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

“Mendak Tirta adalah ritual tahunan masyarakat Tengger. Pemerintah akan terus mendukung agar tradisi ini tetap lestari,” ujar Camat Sukapura Nur Rachmat Sholeh, Jumat (29/5).

Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto menambahkan, Madakaripura bukan satu-satunya lokasi pengambilan tirta. Terdapat empat sumber mata air suci yang digunakan untuk menyucikan perlengkapan ibadah di Pura Luhur Poten.

Tiga titik lainnya berada di Sumber Watu Klosot dan Ranu Pane di Senduro, Lumajang, serta mata air Widodaren di kawasan Gunung Bromo.

“Air dari empat sumber itu dikumpulkan menjadi satu, lalu digunakan untuk menyucikan perlengkapan ibadah di Pura Luhur Poten,” jelas Bambang.

Ritual Mendak Tirta digelar serentak di tiga wilayah sesuai asal masyarakat Tengger. Warga Probolinggo menuju Madakaripura, warga Pasuruan di Widodaren, dan warga Lumajang di Ranu Pane.

Seluruh rangkaian ini menjadi wujud kesiapan batin umat Hindu Tengger menyambut puncak Yadnya Kasada dengan kesucian jiwa.

Editor : Ryan Haryanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut