Tiga Calon Dukun Pandita Tengger Jalani Ujian Sakral di Puncak Kasada 2026
PROBOLINGGO, iNewsMalang.id – Puncak Yadnya Kasada 2026 di Gunung Bromo tak hanya diwarnai ritual pelarungan sesaji ke kawah. Tiga warga Suku Tengger juga harus menjalani ujian sakral yang menentukan nasib mereka untuk menyandang status Dukun Pandita.
Ketiga calon tersebut diwajibkan mengikuti ujian adat dan keagamaan yang digelar langsung di tengah rangkaian pemujaan di Pura Agung Poten, tepat di kaki Gunung Bromo.
Hasil dari ujian tersebut akan menjadi penentu mutlak apakah mereka layak dikukuhkan sebagai pemimpin spiritual baru, atau harus menunda proses pengangkatan tersebut.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto, menegaskan status Dukun Pandita tidak diberikan secara otomatis. Meski para calon telah melewati fase pembinaan yang panjang di bawah bimbingan para senior, ujian di Pura Poten tetap menjadi pembuktian yang sesungguhnya.
“Jika lulus, maka baru akan diangkat jadi dukun Pandita,” ujar Bambang kepada iNews Malang, Senin (1/6/2026) dini hari.
Bambang merinci, ketiga calon Dukun Pandita tersebut merupakan perwakilan dari tiga wilayah berbeda, yakni Desa Ngadisari dan Desa Pandansari di Kabupaten Probolinggo, serta wilayah Sedang di Kabupaten Pasuruan.
Mereka semua telah menjalani proses pembinaan intensif sebelum memperoleh kesempatan emas di momen sakral ini.
Secara tradisi, menjadi Dukun Pandita Suku Tengger menuntut kriteria yang sangat tinggi. Penilaian yang dilakukan oleh para sesepuh dan disaksikan langsung oleh umat Hindu Tengger tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif, seperti menghafal mantra-mantra suci atau memimpin jalannya ritual.
Seorang calon Pandita juga dituntut memiliki kematangan spiritual, pengendalian diri yang kuat, serta pemahaman mendalam terhadap filosofi tata cara upacara adat dan keagamaan masyarakat Tengger.
Apabila ketiga kandidat tersebut dinyatakan lulus dalam ujian sakral ini, maka jumlah Dukun Pandita di wilayah Probolinggo akan bertambah dari yang semula 50 orang menjadi 53 orang.
Penambahan ini dinilai sangat signifikan bagi keberlangsungan adat Tengger, mengingat proses pengukuhan Dukun Pandita terkenal sangat ketat dan tidak dilakukan setiap tahun.
Bagi masyarakat Tengger, Dukun Pandita adalah figur sentral dalam kehidupan adat. Mereka bukan hanya sebagai pemimpin ritual atau penjaga kelangsungan tradisi, melainkan jembatan hidup antara nilai-nilai luhur spiritualitas leluhur dengan realitas kehidupan masyarakat sehari-hari.
Ujian yang digelar bertepatan dengan Yadnya Kasada ini menjadi mekanisme alamiah untuk memastikan bahwa tongkat estafet tradisi Bromo benar-benar berada di tangan yang siap mengemban tanggung jawab besar tersebut.
Editor : Ryan Haryanto