Mau ke Bromo dari Kota Malang? Ini Rute Paling Aman dan Cepat
KOTA MALANG, iNewsMalang.id - Wisatawan yang berangkat dari Kota Malang menuju Gunung Bromo memiliki beberapa pilihan jalur perjalanan. Setidaknya ada tiga rute yang paling sering digunakan, yakni melalui Tumpang, Cemorolawang, dan Penanjakan via Tosari. Masing-masing jalur menawarkan karakter jalan, waktu tempuh, hingga panorama yang berbeda.
Pemilihan rute menjadi penting karena kondisi medan menuju Bromo cukup beragam. Ada jalur yang cocok untuk sepeda motor, ada pula yang lebih aman dilalui kendaraan roda empat.
Jalur pertama yang paling dekat dari Kota Malang adalah via Tumpang. Rute ini cukup diminati pengguna sepeda motor karena jaraknya relatif singkat menuju kawasan Bromo. Namun, kondisi jalannya sempit, terutama saat mendekati area wisata.
Pada beberapa titik, kendaraan dari arah berlawanan harus bergantian melintas karena badan jalan hanya cukup untuk satu mobil. Pengendara juga disarankan tidak melewati jalur ini saat malam hari lantaran penerangan minim dan kontur jalan cukup terjal.
Meski demikian, jalur Tumpang menawarkan panorama alam yang menarik. Wisatawan akan melewati kawasan perkebunan apel hingga sejumlah destinasi wisata alam seperti Desa Wisata Gubugklakah, Coban Pelangi, Coban Trisula, Coban Raksasa, hingga River Tubing Ledok Amprong.
Perjalanan melalui jalur ini akan berakhir di Pos Jemplang. Dari titik tersebut, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan menuju Bukit Teletubbies, Pasir Berbisik, dan Lautan Pasir Bromo.
Akses wisata di kawasan Tumpang juga mulai berkembang. Kini tersedia homestay dan jasa penyewaan jeep di sepanjang jalur menuju Bromo.
Alternatif kedua adalah jalur Cemorolawang via Tongas, Probolinggo. Rute ini lebih direkomendasikan bagi pengguna mobil karena kondisi jalannya lebih lebar dan aman dibanding jalur Tumpang.
Dari Malang, wisatawan dapat masuk Tol Pandaan–Malang, lalu melanjutkan perjalanan menuju Bangil dan keluar di gerbang tol Bangil-Rembang. Setelah itu perjalanan diteruskan menuju Tongas, Sukapura, hingga kawasan Cemorolawang.
Waktu tempuh jalur ini sekitar 2 jam 40 menit dari Kota Malang. Meski lebih jauh, aksesnya dinilai lebih nyaman untuk kendaraan roda empat.
Cemorolawang juga menjadi jalur paling populer bagi wisatawan menuju Bromo. Selain akses jalan yang mudah, kawasan ini dilengkapi banyak penginapan dan warung makan dengan harga terjangkau.
Pemandangan Gunung Bromo dari kawasan Cemorolawang juga menjadi daya tarik tersendiri, terutama saat pagi hari ketika kabut menyelimuti area pegunungan.
Sementara itu, jalur ketiga adalah Penanjakan via Tosari, Pasuruan. Rute ini cukup populer di kalangan wisatawan yang ingin menikmati matahari terbit di Bromo.
Dari Kota Malang, perjalanan dimulai menuju Purwodadi, kemudian dilanjutkan ke Nongkojajar, Tosari, hingga Penanjakan. Jarak tempuhnya sekitar 76 kilometer dengan waktu perjalanan kurang lebih 2,5 jam menggunakan mobil.
Kondisi jalan di jalur Tosari tergolong baik, meski didominasi tikungan dan tanjakan. Karena itu, wisatawan disarankan memastikan kendaraan dalam kondisi prima sebelum berangkat, termasuk memeriksa bahan bakar dan performa mesin.
Selain menentukan jalur, wisatawan juga perlu memilih moda transportasi menuju Bromo. Kendaraan pribadi menjadi opsi yang paling fleksibel karena perjalanan bisa dilakukan kapan saja.
Bagi yang tidak ingin membawa kendaraan sendiri, tersedia angkutan umum DAMRI dari Stasiun Malang Kotabaru dan Bandara Abdulrachman Saleh menuju Bromo dengan tarif sekitar Rp30 ribu. Namun layanan tersebut hanya beroperasi hingga menjelang siang.
Pilihan lain adalah menggunakan bus menuju Terminal Bayuangga Probolinggo, kemudian melanjutkan perjalanan memakai kendaraan umum atau omprengan menuju kawasan Bromo.
Wisatawan juga bisa memilih jasa rental mobil, baik lepas kunci maupun lengkap dengan sopir. Opsi ini dinilai lebih praktis bagi pengunjung yang belum familiar dengan medan menuju Bromo.
Sementara bagi wisatawan yang ingin perjalanan lebih praktis, paket wisata Bromo dapat menjadi alternatif. Seluruh kebutuhan perjalanan, mulai transportasi hingga penginapan, biasanya sudah disiapkan oleh penyedia jasa wisata.
Editor : Ryan Haryanto