Tukar Popularitas dengan Bakti, Isa Bajaj Pulang Kampung Rawat Orang Tua
Konsep idealis Isa membuahkan hasil. Warung Eropa Magetan kini tak pernah sepi. Menariknya, pangsa pasarnya justru bergeser. Jika awal buka didominasi warga lokal, kini 60 persen pelanggannya merupakan pelancong luar kota seperti Madiun, Ponorogo, Surabaya, hingga Jogja, terutama saat akhir pekan atau libur panjang.
Salah satu rahasia kelezatan Nasi Tempong ala Isa Bajaj terletak pada bahan baku. Ia menggunakan Tomat Ranti (tomat mawar/jadul) yang sengaja dipasok dari Jember, bahkan kini ia sampai menyewa kebun sendiri untuk menanamnya.
“Tekstur air tomat ranti itu lebih sedikit dibanding tomat biasa, jadi kalau diulek enggak merusak racikan bumbu sambal dan enggak gampang berair,” jelas Isa yang setiap subuh pukul 05.30 sudah rutin belanja sendiri ke pasar desa.
Meski kini sukses berkembang hingga memiliki empat karyawan, jalan Isa tak selalu mulus. Ia sempat mencicipi “kerasnya” persaingan dunia kuliner daerah.
Ada momen tak masuk akal di mana banyak pelanggan melapor warungnya selalu tutup, padahal warungnya buka seperti biasa.
Di saat yang sama, omzetnya sempat terjun bebas hingga tak ada satu pun pelanggan yang datang, disusul temuan taburan bunga misterius di depan pintu warung.
“Hal-hal begitu bikin kaget, kok di dunia kuliner sampai begini? Tapi saya enggak mau cari tahu siapa, jalani saja,” tuturnya.
Editor : Ryan Haryanto