Apel Batu Sekarat! DPRD Minta Pemkot Berhenti Basa-basi dan Segera Revitalisasi Lahan
Menurut dia, semangat tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan komoditas apel. Di sejumlah desa, petani masih berupaya mempertahankan kebun dengan mengembangkan wisata petik apel sebagai nilai tambah usaha mereka.
Namun, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Banyak pohon apel yang saat ini memasuki usia tidak produktif. Sebagian besar bahkan telah berumur lebih dari 40 tahun. Kondisi itu diperparah dengan perubahan iklim yang membuat serangan hama dan penyakit tanaman semakin sulit dikendalikan.
Data yang dihimpun menunjukkan tren penurunan lahan apel berlangsung cukup tajam. Pada masa kejayaannya di era 1980-an, luas kebun apel di Kota Batu mencapai sekitar 3.000 hektare. Angka tersebut turun menjadi 1.200 hektare pada 2020, lalu menyusut menjadi 1.092 hektare pada 2022, 1.044 hektare pada 2023, dan tersisa 740 hektare pada 2024.
Dengan demikian, dalam empat tahun terakhir, Kota Batu kehilangan sekitar 460 hektare lahan apel. Penurunan itu menjadi sinyal kuat perlunya langkah penyelamatan yang lebih serius.
Salah satu yang didorong DPRD adalah percepatan program revitalisasi kebun. Pohon-pohon tua yang produktivitasnya menurun perlu diganti dengan varietas yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan serangan hama.
Editor : Ryan Haryanto