Bromo Sky Cafe dan Ikhtiar Menjadikan Pariwisata sebagai Penggerak Ekonomi Lokal
PROBOLINGGO, iNewsMalang.id - Selama ini, Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Bromo Tengger Semeru (BTS) lebih sering dinilai dari angka kunjungan turis dan keelokan lanskapnya. Namun, di balik megahnya proyek infrastruktur seperti Jembatan Kaca Seruni Point, ada tantangan menahun yang belum sepenuhnya tuntas.
Tantangan itu adalah bagaimana pariwisata massal (mass tourism) dapat memberikan dampak langsung terhadap komoditas lokal dan sirkulasi ekonomi masyarakat di sekitar kawasan wisata.
Peluang inilah yang coba ditangkap oleh The Lawu Group melalui fasilitas anyar mereka, Bromo Sky Cafe. Mengambil lokasi di titik tertinggi Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan asukapura, Kabupaten Probolinggo, kafe yang mengusung konsep “di atas awan” ini tidak sekadar menjual pemandangan estetik, melainkan bertransformasi menjadi etalase hilirisasi potensi agraria dan perikanan Probolinggo.
“Salah satu fasilitas unggulan yang kami launching bersamaan dengan Jembatan Kaca Bromo adalah Bromo Sky Cafe. Konsepnya benar-benar kafe di atas awan,” ujar General Manager The Lawu Group, Achmad Ridho, kepada Bromo Today, Jumat (26/6/2026).

Ketika Kerapu Pesisir Naik Kelas di Ketinggian Bromo
Salah satu anomali menu yang paling mencolok di kafe ini adalah kehadiran Steam Fish Kerapu ala Kanton. Di tengah suhu dingin Bromo yang menggigit, pilihan menyajikan ikan laut alih-alih makanan khas pegunungan adalah sebuah strategi interkoneksi ekonomi yang matang.
Kabupaten Probolinggo memiliki garis pantai sepanjang lebih dari 72 kilometer dengan potensi perikanan budidaya air payau yang melimpah, salah satunya ikan kerapu. Pihak manajemen mencoba menjembatani potensi pesisir ini untuk dipasarkan di wilayah pegunungan yang padat wisatawan internasional.
“Kerapu ini salah satu potensi perikanan unggulan di Kabupaten Probolinggo. Kami bawa ke atas Bromo, kami sajikan fresh dengan bumbu rempah spesial ala masakan Kanton,” jelas Ridho.

Langkah ini sekaligus menjadi strategi diplomasi kuliner (gastrodiplomacy). Dengan mengemas komoditas lokal lewat rasa internasional, menu ini dibidik untuk menyasar pasar spesifik: wisatawan mancanegara, khususnya dari Tiongkok, yang kerap mencari hidangan autentik bersuhu hangat di tengah cuaca ekstrem.
Memutus Rantai Tengkulak Lewat Secangkir Kopi Argopuro
Selain sektor perikanan, sektor perkebunan rakyat juga mendapat panggung utama. Bromo Sky Cafe berkomitmen memutus ketergantungan pada jenama kopi pabrikan atau impor, dan memilih menyuplai lini bisnis mereka langsung dari petani lokal di dua ekosistem pegunungan Probolinggo.
Manajemen menyediakan varietas Arabika dan Robusta yang dipanen langsung dari lereng Gunung Argopuro dan Gunung Bromo. Selama ini, kopi-kopi dari kawasan ini sering kali tenggelam di bawah bayang-bayang nama besar daerah lain saat masuk ke pasar sekunder.
“Kami menghadirkan biji kopi asli dari Probolinggo. Jadi, wisatawan bisa merasakan cita rasa autentik bumi Probolinggo langsung di habitat aslinya,” kata Ridho.
Menampilkan kopi lokal di pusat destinasi internasional seperti Seruni Point dinilai sebagai langkah taktis untuk menaikkan nilai tawar (bargaining power) biji kopi Probolinggo di mata para penikmat kopi global.
Inklusivitas Pasar: Menjaga Kedaulatan Kantong Lokal
Etalase kebudayaan dan komoditas lokal kerap kali terjebak dalam jebakan overpricing (harga selangit) saat diberi label “premium”. Dampaknya, masyarakat lokal justru terasing dari produk daerahnya sendiri karena daya beli yang tak menjangkau.
Mengantisipasi hal itu, struktur tarif yang diberlakukan di Bromo Sky Cafe dirancang agar tetap adaptif terhadap kantong domestik. Untuk varian minuman dan kopi lokal, harga dipatok mulai dari Rp15.000 hingga Rp28.000. Sementara menu makanan berat berbahan dasar lokal dihargai dari Rp20.000 hingga Rp75.000.
“Kami ingin tempat ini inklusif. Mulai dari Rp15 ribu, pengunjung sudah bisa nongkrong, ngopi di atas awan, dan menikmati pemandangan spektakuler,” pungkas Ridho.
Pada akhirnya, Bromo Sky Cafe sedang menguji sebuah tesis baru di Bromo: bahwa pariwisata modern tidak harus mencabut akar produksi lokal, melainkan bisa menjadi agregator yang membawa hasil bumi rakyat ke level tertinggi.
Editor : Ryan Haryanto