Kebakaran Gunung Bromo Berakhir, Ini Pesan Sesepuh Tengger Mbah Sis
PROBOLINGGO, iNewsMalang.id - Sebelas hari berjibaku melawan api, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) akhirnya dinyatakan padam total. Api yang sejak Senin (3/8/2026) melanda Blok Bantengan hingga Bukit Seruni Point berhasil ditangani seluruhnya pada Jumat (14/8/2026).
Padamnya api menjadi kabar baik. Namun, kerusakan ekosistem akibat Kebakaran Gunung Bromo menyisakan pekerjaan panjang. Bagi sesepuh masyarakat Tengger, Siswo Wardono (86), musibah tersebut juga menjadi momentum untuk kembali menumbuhkan kepedulian terhadap alam.
Pria yang akrab disapa Mbah Sis itu mengibaratkan alam seperti manusia. Ada kalanya sehat, ada pula saat menghadapi sakit dan cobaan. Karena itu, musibah kebakaran di Bromo semestinya tidak hanya dilihat sebagai bencana. Melainkan juga menjadi bahan untuk mengambil hikmah.
“Setiap manusia itu pasti mengalami musibah. Di balik musibah itu pasti ada hikmah,” tutur pria yang pernah memimpin Desa Jetak selama 25 tahun itu.
Menurut dia, perubahan zaman turut mengubah pola kehidupan masyarakat Tengger. Dulu, pertanian menjadi sumber penghidupan utama. Pariwisata Bromo hanya menjadi pekerjaan sampingan.
Kini kondisinya berbeda. Pariwisata berkembang menjadi salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat. Mulai pemandu wisata, pelaku UMKM, hingga berbagai sektor jasa yang menggantungkan penghasilan dari kunjungan wisatawan.
Persoalannya, geliat wisata tidak boleh berhenti pada urusan ekonomi. Ada tanggung jawab yang harus ikut dibawa, yakni menjaga alam tempat wisata itu berada dan kearifan lokalnya.

Mbah Sis menyebut masih ada wisatawan yang datang sekadar menikmati keindahan Bromo. Ada pula yang melihat kawasan tersebut dari sisi bisnis. Kesadaran untuk merasa memiliki atau ikut nduweni dinilai penting agar wisatawan ikut menjaga kelestarian lingkungan.
“Siapapun yang berkunjung, kami mohon untuk merasa memiliki. Ikut nduweni (merasa memiliki),” ucap Mbah Sis kepada iNews Malang.
Salah satu persoalan sederhana yang masih ditemui adalah sampah. Tidak sedikit sampah yang dibuang sembarangan dari kendaraan maupun sepanjang jalur wisata. Dampaknya, petugas harus bekerja lebih keras untuk membersihkan kawasan.
Karena itu, Mbah Sis mengingatkan wisatawan maupun warga lokal yang beraktivitas di kawasan Bromo agar lebih berhati-hati. Terutama bagi mereka yang merokok. Puntung rokok tidak boleh dibuang sembarangan karena berpotensi memicu kebakaran, terlebih saat kondisi vegetasi kering.
Dia meminta setiap orang memastikan puntung rokok benar-benar padam sebelum membuangnya pada tempat yang semestinya. Menurutnya, kewaspadaan kecil bisa mencegah kerugian yang jauh lebih besar.
“Kalau ke kawasan Bromo, baik wisatawan maupun warga lokal harus hati-hati. Jangan sembarangan merokok, apalagi membuang puntung rokok sembarangan. Ini harus menjadi perhatian bersama untuk mengantisipasi kebakaran,” pesannya.
Mbah Sis menilai kejadian karhutla kali ini telah menimbulkan kerugian bagi banyak pihak. Tidak hanya alam dan ekosistem, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata Bromo.
Karena itu, dia kembali mengajak seluruh pihak menjaga kawasan Bromo bersama-sama. Tidak membuang sampah sembarangan, membawa kembali sampah masing-masing, serta menghindari tindakan yang berpotensi memicu kebakaran.
Di sisi lain, dia mengapresiasi kerja keras berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla. Pemadaman tidak hanya dilakukan Balai Besar TNBTS dan Kementerian Kehutanan. BNPB, BPBD, TNI-Polri, relawan, hingga masyarakat ikut turun tangan.
Upaya pemadaman juga didukung helikopter water bombing. Air diambil dari kawasan Ranu Pani dan Ranu Regulo untuk membantu menjangkau titik-titik api di kawasan yang sulit diakses melalui jalur darat.
Mbah Sis secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Bupati Probolinggo, Wakil Gubernur Jatim dan Menko PMK yang ikut meninjau lokasi kebakaran. Apresiasi juga diberikan kepada BNPB dan seluruh tim yang hingga Jumat (14/8/2026) masih bersiaga di kawasan terdampak.
“Saya atas nama pribadi sebagai masyarakat Tengger mengucapkan terima kasih terhadap semua pihak, terutama kepada Pak Bupati yang sampai ikut terjun ke lapangan kemarin bersama-sama. Juga kepada BNPB dan seluruh tim yang terus siaga,” ujarnya.
Dia membayangkan beratnya proses pemadaman jika hanya mengandalkan tenaga manusia. Membawa air secara manual ke lokasi kebakaran tentu bukan perkara mudah.
“Andaikan kita kerja bakti mikul air ke sana, enggak mampu rasanya. Perjuangan mulai dari pusat sampai pemerintah daerah luar biasa,” imbuhnya.
Kini, setelah api padam, perhatian beralih pada pemulihan kawasan. Mbah Sis optimistis alam Bromo memiliki kemampuan untuk kembali menghijau.
Dia memperkirakan hujan mulai turun sekitar Oktober. Dalam empat hingga lima bulan setelahnya, vegetasi yang tumbuh di kawasan bekas kebakaran diyakini bakal menghadirkan pemandangan berbeda.
“Mudah-mudahan 4 sampai 5 bulan lagi itu akan lebih cantik dari yang sekarang. Kalau sudah turun hujan, tempat yang terbakar akan muncul rumput baru,” katanya.
Bagi Mbah Sis, tumbuhnya kembali vegetasi bukan sekadar soal warna hijau yang menghiasi lereng. Ada ketenangan yang bisa muncul ketika masyarakat kembali melihat alam Bromo pulih.
“Itu seni yang lebih hebat dan cantik lagi. Akan muncul ketenangan batin kalau kita melihat keindahan itu,” pungkasnya.
Editor : Ryan Haryanto