get app
inews
Aa Text
Read Next : Bromo dari Empat Arah, Bromo Sky Bridge dan Bromo Sunset Music and Culture Jadi Andalan Daerah Ini

Di Balik Keindahan Bromo, Mahasiswa UNS Surakarta Menemukan Kekuatan Budaya Tengger

Jum'at, 17 Juli 2026 | 09:26 WIB
header img
Tak hanya alam, budaya Tengger membuat mahasiswa UNS menemukan sisi lain pesona Bromo. (Foto: iNews Malang/Ryan Haryanto)

MALANG, iNewsMalang.id – Kemegahan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tidak hanya menjadi magnet pariwisata internasional. Bagi kalangan akademisi, eksotisme bentang alam dengan interaksi vulkanis dan kultural di sana menjadi laboratorium hidup yang menantang untuk dikaji.

Hal itu pula yang melatari lima mahasiswa program sarjana Universitas Sebelas Maret atau UNS Surakarta, Jawa Tengah, memilih terjun langsung ke pegunungan Tengger, Kabupaten Probolinggo.

Selama sebulan penuh, tim yang dikomandani M. Faza Alief Putra Rimbangani (ketua) dan Muhibun Khanam (sekretaris), serta beranggotakan Laura Bella Dwipuspita, Laila Nur Rahmawati, dan Nayla Via Hana ini membedah sistem pengelolaan kawasan dalam program magang intensif.


Mahasiswa UNS turun langsung ke Bromo, mengkaji konservasi dan ketahanan budaya Tengger. (Foto: iNews Malang/Ugik)

Topik yang diangkat cukup berbobot, yakni Analisis Strategi Pengelolaan Kawasan Konservasi di TNBTS Seksi PTN Wilayah I. Melalui payung riset tersebut, mereka membedah manajemen zonasi, mitigasi kebencanaan lingkungan, hingga proyeksi pariwisata berkelanjutan.

Namun, di luar urusan angka dan data teknis, ada satu aspek yang paling memikat hati para peneliti muda kampus Bengawan Solo ini, yakni ketahanan budaya masyarakat adat Tengger.

Di tengah gempuran modernisasi industri pelancongan yang kian masif, potret sosiokultural masyarakat Tengger dinilai luar biasa. Pemandangan harian warga yang karismatik dengan balutan udeng (ikat kepala) serta kain sarung khas Bromo menjadi daya tarik tersendiri. Tradisi berpakaian itu dinilai menjadi benteng budaya yang kukuh dalam menjaga identitas.

Interaksi kultural para mahasiswa ini dipastikan bakal kian mendalam. Sebab, dalam waktu dekat mereka dijadwalkan terlibat langsung dalam pengamatan perayaan adat Hari Raya Karo. Kedekatan sosial dengan warga lokal itu memberikan perspektif baru yang memperkaya analisis modal sosial dalam laporan riset mereka.

“Bromo itu magis, bukan cuma soal kawah atau sunrise. Sisi budaya dan kehangatan warganya luar biasa. Siapa pun wajib ke sini untuk melihat Bromo dari sisi yang berbeda,” ungkap Laura Bella, anggota tim yang memegang subtema pariwisata, saat ditemui di Bromo Sky Cafe, Jumat (17/7/2026).

Sembari memandang hamparan Gunung Batok yang tersaji vertikal di depannya, Bella menceritakan pengalamannya menguji adrenalin di Jembatan Kaca Bromo (Bromo Sky Bridge) Bukit Kedaluh, Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura.

Melintasi jembatan sepanjang 120 meter di atas jurang sedalam 83 meter itu memberikan sensasi sekaligus cara pandang baru tentang pengelolaan fasilitas modern di area konservasi.

“Awalnya lumayan menegangkan, mendebarkan sekali waktu pertama melangkah. Tetapi begitu melihat lanskap Bromo secara utuh dari atas kaca, rasa tegang itu langsung kalah dengan rasa takjub,” imbuhnya.

Kerja lapangan kelima mahasiswa ini dipastikan jauh dari kesan pelesiran. Oleh pihak Balai Besar TNBTS, mereka dilibatkan langsung dalam agenda konservasi riil. Salah satunya adalah penanganan masalah klasik tahunan Bromo, yakni kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area savana.

Tak tanggung-tanggung, mereka ikut turun ke lapangan membantu petugas membuat sekat bakar (firebreak) sepanjang 1 hingga 3 kilometer. Langkah fisik ini vital untuk memutus rambatan api kala musim kering melanda vegetasi peka sabana.

Selain itu, pemantauan berkala juga dilakukan ke Kawah Bromo hingga pelacakan habitat primata dilindungi lutung jawa di vegetasi bawah Penanjakan.

Keterlibatan aktif mahasiswa ini mendapat apresiasi positif dari Camat Sukapura Nur Rachmad Sholeh. Menurutnya, Bromo tidak hanya menyimpan potensi wisata alam, tetapi juga kekayaan budaya masyarakat Tengger yang sangat layak menjadi objek kajian akademis.

“Kami menyambut baik kehadiran mahasiswa di Sukapura. Semoga hasil penelitian ini bisa menjadi masukan untuk pengelolaan Bromo yang lebih baik,” ucap Rachmad.

Rekomendasi akademis yang disusun tim UNS ini diharapkan mampu memberi kontribusi nyata bagi pengelolaan TNBTS yang harmonis antara konservasi alam, ketahanan budaya, dan tuntutan wisata masa depan.

Editor : Ryan Haryanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut