Festival Bantengan di Kota Batu Jadi Magnet Wisata
Menurut Anjani, penyelenggaraan tahun ini memiliki cerita berbeda. Festival digelar murni oleh komunitas bantengan tanpa sokongan anggaran pemerintah. Pemda hanya menerbitkan izin penyelenggaraan. Seluruh kebutuhan operasional ditanggung secara swadaya oleh komunitas dan masyarakat pecinta bantengan.
“Lebih dari 150 kontingen ikut ambil bagian, termasuk peserta dari luar negeri. Semuanya digelar secara swadaya,” katanya.
Bagi panitia, keterbatasan anggaran bukan alasan menghentikan festival. Justru semangat menjaga warisan budaya menjadi modal terbesar. Dampaknya pun langsung terasa. Lapak-lapak UMKM di sepanjang jalur parade dipadati pengunjung sejak siang hingga malam.
Meski undangan telah dikirim kepada sejumlah pejabat sejak awal rangkaian acara, tak satu pun hadir saat parade puncak berlangsung. Hal itu tidak mengurangi kemeriahan festival. Ribuan warga tetap memadati sepanjang rute dan menikmati setiap atraksi yang tampil bergantian.
Parade merupakan klimaks rangkaian Bantengan Nuswantara Trance Festival XVIII yang telah berlangsung beberapa hari. Diawali malam penghargaan bagi para sesepuh bantengan, dilanjutkan pertunjukan seniman nasional dan internasional, kegiatan budaya di Kecamatan Pujon, hingga ditutup parade kolosal di pusat Kota Batu.
Editor : Ryan Haryanto