Warisi Utang Ratusan Juta, Pria di Malang ini Sulap Rumput Desa Jadi Industri Hijau Nasional
MALANG, iNewsMalang.id - Di pinggiran Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, hamparan hijau tak hanya menyegarkan mata, tetapi juga membangkitkan harapan. Dari hamparan rumput yang sepintas tampak sederhana itulah roda perekonomian warga desa berputar.
Di balik bentangan karpet hijau itu berdiri Thobagus Nur Hubbi Al Arifin (32), pemuda yang sukses mengembangkan Jadijaya Landscape. Ia membuktikan helai demi helai rumput taman mampu memberangkatkan haji, membeli deretan kendaraan, hingga menghidupi ratusan warga.

Namun, keberhasilan itu tidak diraih dalam semalam. Ada kisah perjuangan, air mata, dan kebangkitan dari keterpurukan yang mengiringi perjalanan usahanya.
Jejak usaha keluarga ini bermula pada 1992. Sang ayah, yang kala itu bekerja serabutan, melihat peluang di tengah maraknya pembangunan perumahan di Surabaya.
Berbekal rumput liar yang tumbuh di sekitar rumah warga, ia mulai mengumpulkan dan menjualnya. Perlahan, usaha kecil itu berkembang menjadi budidaya rumput yang melibatkan warga desa hingga mencapai puncaknya saat memasok proyek Bandara Juanda pada awal 2000-an.
Cobaan besar datang pada 2012. Kesalahan perhitungan saat menggarap proyek di Ambon tanpa survei lapangan membuat usaha keluarga merugi hingga ratusan juta rupiah. Tiga kontainer bibit terbuang sia-sia. Kondisi semakin berat setelah sang ayah meninggal dunia pada 2015 dan meninggalkan utang dalam jumlah besar.

Bagus, anak pertama dari empat bersaudara, mengaku sempat menikmati masa muda yang penuh aktivitas. Selain kuliah di Fakultas Ekonomi, ia aktif sebagai pengurus DEMA (Dewan Mahasiswa) dan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).
Kepada iNews Malang, Bagus juga bercerita bahwa di luar aktivitas akademik ia pernah aktif mengikuti komunitas sound horeg. Hobi tersebut cukup lama digelutinya sebelum akhirnya memilih fokus meneruskan usaha keluarga.
“Waktu itu saya masih fokus kuliah di Fakultas Ekonomi. Tapi rasanya harus bangkit, harus melanjutkan. Dulu pas kelas 2 SMP saja saya pernah nekad menangani pengiriman 13 truk Fuso ke Bali waktu orang tua sedang naik haji. Masa sekarang harus menyerah?,” kenang Bagus.
Berbekal ilmu ekonomi dari bangku kuliah dan keberanian mengambil risiko, Bagus kemudian mengambil alih kemudi usaha keluarga. Ia mengubah total strategi pemasaran. Jika sang ayah mengandalkan relasi konvensional, Bagus membawa usaha itu masuk ke era digital melalui media sosial.
Video-video sederhana yang diunggahnya perlahan menarik perhatian publik hingga akhirnya viral pada 2022. Dari titik itulah usaha keluarga kembali bangkit. Bahkan, utang ratusan juta rupiah berhasil dilunasi sebelum ia menggenggam ijazah sarjana.
Di tangan Bagus, usaha ini tak lagi sekadar menampung rumput liar, tetapi berkembang menjadi budidaya profesional. Empat jenis rumput unggulan kini rutin dipanen dari ladang-ladang warga.
Siklus panennya pun tergolong cepat. Jika tebu membutuhkan waktu sekitar satu tahun dan jagung hanya bisa dipanen tiga kali dalam setahun, rumput taman sudah siap dipanen hanya dalam waktu 28 hari hingga satu bulan.
“Setiap hari pengeluaran rumput dari desa ini minimal 2.000 meter persegi. Pengirimannya sudah meluas dari Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga memasok kebutuhan lanskap Ibu Kota Nusantara (IKN),” jelasnya.
Keberhasilan itu tidak dinikmati Bagus seorang diri. Baginya, usaha harus membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.
Kini, sedikitnya 70 hingga 100 warga desa terlibat aktif dalam usaha tersebut. Mulai dari ibu-ibu yang menangani penanaman pada pagi dan sore hari, pekerja panen dengan sistem borongan, hingga sopir armada pengiriman.
Lahan-lahan kosong di depan, samping, dan belakang rumah warga yang dahulu terbengkalai kini berubah menjadi hamparan rumput produktif.
Lulusan Manajemen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu menyebut ada tiga prinsip sederhana yang selalu dipegangnya dalam menjalankan usaha.
“Modal pedagang itu cuma tiga: bersabar, komitmen, dan jujur. Kalau pembeli pesan 100 meter, kirim pas 100 meter, jangan dikurangi. Biar untung sedikit, yang penting hasilnya barokah,” pungkasnya.
Editor: Ryan Haryanto