get app
inews
Aa Text
Read Next : Prakiraan Cuaca Malang Raya Jumat 4 September 2026: Dominan Cerah, Dataran Tinggi Udara Kabur

Jangan Asal Bungkus Makanan Panas Pakai Styrofoam, Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai

Jum'at, 04 September 2026 | 10:13 WIB
header img
Ilustrasi makanan styrofoam. (Foto: iNews Malang/ist)

MALANG, iNewsMalang.id - Styrofoam memang praktis. Murah, ringan, dan gampang ditemukan. Namun, kebiasaan membungkus makanan panas dengan material tersebut bukan tanpa risiko.

Praktisi bisnis lingkungan sekaligus influencer Bang Sap mengingatkan adanya potensi perpindahan zat kimia dari Styrofoam ke makanan. Risiko itu disebut lebih perlu diperhatikan ketika kemasan bersentuhan dengan makanan panas, berlemak, dan asam.

“Kalau kena makanan favorit kita yang panas, berlemak, dan asam, itu kombinasi yang paling memicu zat kimianya lepas ke makanan,” kata Bang Sap melalui unggahan video di akun Instagram miliknya, dikutip Rabu (12/8/2026).

Styrofoam merupakan salah satu bentuk plastik berbahan polistirena. Dalam proses pembuatannya, terdapat bahan yang tidak selalu terikat sempurna pada material.

Salah satunya adalah stirena. Zat inilah yang menjadi perhatian karena dapat berpindah dari kemasan ke makanan dalam kondisi tertentu.

Panas menjadi salah satu pemicunya. Begitu pula lemak dan tingkat keasaman makanan.

“Tiga hal yang bisa bikin dia gampang lepas yaitu panas, lemak, dan asam. Sialnya, itu persis ciri makanan kita. Makin panas, makin berlemak, makin lama nempel di wadah, makin banyak pula stirena yang ikut pindah ke piring,” ujarnya.

Bang Sap juga menyinggung klasifikasi stirena oleh International Agency for Research on Cancer (IARC). Dia menyebut status stirena pada 2019 dinaikkan dari kategori “mungkin” menjadi “kemungkinan besar” bersifat karsinogenik bagi manusia.

Istilah karsinogenik merujuk pada sifat suatu zat atau paparan yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya kanker. Meski demikian, paparan dari makanan yang dibungkus Styrofoam tidak serta-merta membuat seseorang langsung mengalami gangguan kesehatan.

Persoalannya adalah paparan yang berulang dalam jangka panjang.

Di sisi lain, Styrofoam juga menyisakan persoalan setelah makanan habis. Bang Sap menyoroti material tersebut yang masuk kategori plastik berkode angka enam dan sulit didaur ulang.

“Masalah kedua, kode styrofoam itu di angka enam, jenis plastik yang paling susah didaur ulang. Jadi setelah sekali pakai, dia nyaris selalu berakhir jadi sampah yang nggak terurai atau pecah jadi mikroplastik,” katanya.

Karena itu, masyarakat diminta mulai mengurangi penggunaan Styrofoam, terutama untuk makanan yang masih mengepul, berminyak, atau bercita rasa asam.

Wadah kaca maupun stainless steel dapat dipakai sebagai pilihan untuk penggunaan berulang. Untuk kemasan sekali pakai, daun dan kertas juga bisa menjadi alternatif.

Bagi pelaku usaha kuliner, pergantian kemasan tidak harus identik dengan biaya tinggi. Justru, pilihan kemasan ramah lingkungan bisa menjadi nilai tambah.

“Dan buat kamu yang punya usaha makanan, ini justru peluang, lho. Ganti kemasan yang lebih aman itu nggak harus mahal. Daun pisang malah nambah aroma, kertas kraft buat nasi kotak, atau besek bambu yang bikin kesan lebih premium. Konsumen sekarang malah lebih suka yang begini,” ujar Bang Sap.

Editor : Ryan Haryanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut