Atlet Panjat Tebing Kota Probolinggo Gugur dalam Karhutla Bromo, Ini Rekam Jejaknya di Porprov
Namun, keterbatasan biaya membuatnya memilih bekerja di kawasan Bromo setelah lulus sekolah pada 2026. Keputusan itu menjadi salah satu kenangan yang membekas bagi Iwan.
“Sebenarnya dia dapat beasiswa Silver Ticket dari UNESA, tapi karena keterbatasan pendanaan, dia memilih bekerja di hotel tersebut,” tutur Iwan.
Meski bekerja, Sefril tidak meninggalkan dunia panjat tebing. Setiap mendapat libur, dia menyempatkan diri kembali ke GOR A. Yani, Kota Probolinggo, untuk membantu melatih atlet-atlet junior.
Sefril juga dikenal dekat dengan adik-adik tingkatnya. Dia kerap membimbing mereka berlatih, bahkan membantu mengajari adiknya menjadi imam salat.
“Kalau Salat Magrib dia sering ngimami karena bacaannya paling bagus di antara atlet-atlet lain. Kami tidak hanya kehilangan atlet, tetapi kehilangan anak dan partner melatih,” kenang Iwan.
Editor: Ryan Haryanto