Seven Beaches Festival 2026, Gus Haris Bidik Wisatawan Menginap Tiga Hari
PROBOLINGGO, iNewsMalang.id - Pemkab Probolinggo ingin wisatawan tak hanya datang lalu pulang. Lewat Seven Beaches Festival 2026, pemkab membidik lama tinggal wisatawan hingga tiga hari. Tujuh destinasi pantai dilibatkan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir.
Festival tersebut berlangsung selama tunuh hari, 7-15 November 2026. Bupati Probolinggo dr Mohamad Haris (Gus Haris) membuka kegiatan itu di Pantai Bentar, Desa Curahsawo, Kecamatan Gending, Sabtu (7/11/2026).
Tujuh destinasi yang dilibatkan yakni Pantai Bohay, Pantai Bahak, Pantai Klasik, Pantai Bentar, Gili Ketapang, Pantai Greenthing, dan Pantai Duta. Masing-masing menyiapkan kegiatan untuk menarik wisatawan.
Gus Haris mengatakan, Kabupaten Probolinggo memiliki potensi wisata yang beragam. Tidak hanya Gunung Bromo, tetapi juga kawasan perbukitan, danau, hingga pantai.

“Probolinggo ini memiliki potensi wisata yang luar biasa,” ujar dokter lulusan Unissula Semarang itu.
Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu membuat wisatawan tinggal lebih lama. Karena itu, pemkab ingin menghubungkan kunjungan wisatawan ke sejumlah destinasi.
Wisatawan yang datang ke kawasan pegunungan diharapkan juga mengunjungi pantai maupun danau. Targetnya, mereka bisa menghabiskan waktu hingga tiga hari di Kabupaten Probolinggo.
Dengan begitu, belanja wisatawan tidak hanya terkonsentrasi di satu destinasi. Pedagang, pelaku UMKM, penyedia jasa wisata, hingga pengelola penginapan diharapkan ikut menikmati dampaknya.
“UMKM berputar, banyak orang datang, homestay juga jalan. Masyarakat bisa berjualan apa pun,” kata Gus Haris.

Untuk mewujudkan itu, pemkab menggandeng sejumlah perusahaan. Sebab, kemampuan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) masih terbatas.
Sejumlah perusahaan dilibatkan sebagai bapak asuh melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Di antaranya Semen Indonesia, PT Sasa Inti, YTL, dan PLN Nusantara Power.
Perusahaan tersebut memberikan dukungan terhadap kegiatan di masing-masing destinasi. Dengan pola itu, pembiayaan festival tidak seluruhnya dibebankan kepada APBD.
“Kami punya tanggungan paling-paling hanya di grand opening. Tetapi setiap pantai memiliki kegiatan masing-masing,” jelasnya.
Dukungan juga datang dari kalangan badan usaha milik negara (BUMN). Direktur Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BP BUMN Edy Eko Cahyono mengatakan, keterlibatan BUMN tidak berhenti pada penyelenggaraan festival.
Dukungan juga diarahkan untuk pembenahan infrastruktur, penyediaan sarana wisata, serta penguatan UMKM di kawasan pesisir.
Sejumlah BUMN yang terlibat antara lain Semen Indonesia, PTPN, PLN, BRI, dan BSI.
“Kami bangga bisa bersinergi lintas sektoral menjadi kekuatan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat, terutama di masyarakat pesisir,” ujarnya.
Menurut Edy, keterlibatan perusahaan negara merupakan bagian dari upaya memperluas manfaat program BUMN bagi masyarakat.
Kolaborasi pemerintah, swasta, dan BUMN diharapkan tidak hanya berlangsung selama festival. Namun, juga berlanjut dalam pengembangan destinasi wisata.
“Seven Beaches Probolinggo ini menjadi sebuah momentum untuk kita memperkuat sinergi dan berkolaborasi antara pemerintah, masyarakat, BUMN, swasta, dan seluruh komponen masyarakat yang ada,” katanya.
Meski demikian, pengembangan wisata pantai masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya infrastruktur dan akses menuju destinasi yang belum seluruhnya memadai.
Gus Haris mengakui persoalan tersebut masih menjadi pekerjaan rumah pemkab. Pembenahannya akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kemampuan anggaran.
“Kita punya PR infrastruktur yang insyaallah pelan-pelan sudah kita selesaikan,” ujarnya.
Bagi Gus Haris, pengembangan pariwisata bukan semata urusan mendatangkan pengunjung. Sektor tersebut juga diharapkan mampu membuka peluang usaha dan membantu menekan angka kemiskinan.
“Inilah dorongan besar kita, kenapa kemudian kita ingin Kabupaten Probolinggo keluar dari daerah yang termiskin keempat di Jawa Timur,” tegasnya.
Hanya, pemkab belum menetapkan target jumlah kunjungan maupun nilai transaksi selama festival berlangsung.
Salah satu pertimbangannya, tujuh destinasi yang dilibatkan tersebar di tujuh kecamatan. Kondisi itu berbeda dengan Seven Lakes Festival yang sebelumnya digelar di tujuh danau dalam satu kecamatan.
Karena itu, penghitungan kunjungan wisatawan dan perputaran uang selama festival membutuhkan pendekatan berbeda.
Sementara itu, pembukaan Seven Beaches Festival 2026 di Pantai Bentar dimeriahkan penampilan 700 penari Glipang. Ada pula sendratari Dewi Ratu Segara dan peragaan busana batik khas Kabupaten Probolinggo.
Gus Haris membuka festival dengan memukul alat musik tradisional ronjengan. Prosesi tersebut diiringi lagu daerah Tandhuk Majeng.
Kapolres Probolinggo AKBP Asmida Rizki Siregar mengatakan, kepolisian ikut mengamankan seluruh rangkaian kegiatan. Pengamanan dilakukan untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan wisatawan.
“Polres Probolinggo hadir untuk memberikan pengamanan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan aman, tertib, dan kondusif,” ujarnya.
Pemkab berharap kunjungan wisatawan tidak hanya ramai saat pembukaan. Kegiatan yang berlangsung selama sembilan hari di tujuh destinasi diharapkan mampu menjaga pergerakan pengunjung sekaligus meningkatkan transaksi pelaku usaha.
Melalui Seven Beaches Festival 2026, Pemkab Probolinggo ingin menjadikan wisata pantai sebagai salah satu penopang ekonomi daerah. Bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga memperluas peluang penghasilan masyarakat pesisir.
Editor: Ryan Haryanto