Menurutnya, ia berusaha menawarkan sudut pandang lain dari buku yang ditulisnya. Dari sisi ikan koi misalnya, ada beberapa hal yang dinilai orang tidak diketahui sehingga memunculkan keinginannya berangkat dari riset, pengetahuan, dan interaksinya dengan koi ke dalam suatu buku.
"Koi kaisar itu dengan latar berbeda, berangkat dari riset sejarah, geologi, budaya dan ekonomi. Namun itu saya jadikan satu. Di sini koi saya jadikan subjek, bukan objek yang bisa menjadikan peradaban yg mengingatkan kita bahwa manusia bisa belajar tentang dirinya sendiri, melalui produk lain," ucapnya.
Rinda menjelaskan, bagaimana prosesnya menyusun suatu buku ikan koi itu. Bahkan ia rela melakukan riset ke komunitas ikan koi, membandingkan beberapa jurnal ilmiah, hingga mewancarai pelaku usaha koi di daerah Garum, Blitar. Dari hasil studi ringannya itu ia rupakan menjadi buku yang disusunnya dalam waktu satu tahun.
"Saya sebelumnya sudah tulis dan buat gagasannya, dari situ muncul dan berkembang idenya. Saya riset, saya juga datangin tempatnya. Memang kalau orang akademik menilai buku koi ini kurang ilmiah dalam penulisannya, tapi tujuan saya menulis ini agar orang lain bisa memahami dengan mudah," jelasnya.
Sedangkan di buku 'Di Bawah Langit yang bukan Milikku' ia menawarkan sudut pandang lain mengenai pembelajaran hidup tanpa kehilangan identitas diri. Buku ini disebut berawal dari pengalaman pahit manisnya hidup yang ia jalani, termasuk ketika ia menyadari bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari orang tuanya.
Editor : Avirista Midaada
Artikel Terkait
