"Saya baru tahu setelah 46 tahun, bahwa saya punya leluhur jenderal polisi seperti itu. Saya baru tahu kalau saya bukan anak kandung itu setelah usia 23 tahun dan saya rahasiakan itu sampai umur 46. Jadi semua yang ada di situ saya nggak berani kalau itu fiktif itu malah membuat celaka saya," tegasnya.
Dua buku ini juga menggebrak budaya literasi di Indonesia yang dinilainya memang masih rendah. Kehadiran dua buku yang ringan dibaca diharapakan mampu mengedukasi masyarakat umum mengenai koi dan makna kehidupan. Menariknya meskipun ada edukasi dan nilai yang menarik dari dua bukunya, baginya tak masalah bila buku yang ditulisnya tak laku.
"Saya nggak mau buku saya dalam bentuk elektrik, saya mau mendidik warga, saya ingin orang Indonesia membuka buku, bukan HP, saya tidak pernah memikirkan buku itu akan laku, berapapun yang saya dapatkan itu saya terima," tuturnya .
"Mungkin efeknya bukan sekarang, mungkin saat ini tidak laku melihat buku saya, tapi kalau 5, 10, atau 20 tahun lagi mungkin buku saya menjadi referensi bagi masyarakat. Kalau kita tidak melakukan apa-apa tentu perubahan tidak akan terjadi bangsa Indonesia, tidak akan pernah berubah," pungkasnya.
Editor : Avirista Midaada
Artikel Terkait
