Apa Itu Self-Diagnosis? Psikolog UM Jelaskan Bahaya Diagnosis Mandiri

Ryan Haryanto
Psikolog UM Noventia Sekar Pratiwi mengingatkan bahaya diagnosis mandiri gangguan mental dari konten medsos. (Foto:: Diolah iNews Malang)

Fenomena tersebut dikenal sebagai self-diagnosis atau diagnosis mandiri. Seseorang mencocokkan pengalaman pribadi dengan informasi mengenai gangguan psikologis, kemudian meyakini bahwa dirinya mengalami kondisi tersebut tanpa pemeriksaan profesional.

Konten Medsos Bisa Memicu Diagnosis Mandiri

TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi tempat masyarakat mencari informasi tentang kecemasan, depresi, ADHD, trauma, hingga gangguan kepribadian. Sebagian orang memanfaatkannya untuk memahami perubahan emosi atau kesulitan yang mereka alami.

Persoalan muncul ketika informasi tersebut langsung dijadikan dasar untuk menetapkan diagnosis. Seseorang yang merasa sulit berkonsentrasi, misalnya, bisa meyakini dirinya mengalami ADHD setelah menonton beberapa video tentang gangguan tersebut.

Padahal, kesulitan fokus dapat dipengaruhi banyak faktor. Kurang tidur, stres, kecemasan, dan kondisi kesehatan tertentu juga bisa memengaruhi konsentrasi.

Ada sejumlah faktor psikologis yang membuat seseorang mudah merasa cocok dengan suatu diagnosis.

Editor : Ryan Haryanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4 5

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network