Apa Itu Self-Diagnosis? Psikolog UM Jelaskan Bahaya Diagnosis Mandiri

Ryan Haryanto
Psikolog UM Noventia Sekar Pratiwi mengingatkan bahaya diagnosis mandiri gangguan mental dari konten medsos. (Foto:: Diolah iNews Malang)

Pertama, bias konfirmasi. Ketika menduga dirinya mengalami gangguan tertentu, seseorang cenderung mencari dan memperhatikan informasi yang mendukung dugaan tersebut. Sebaliknya, informasi yang tidak sesuai bisa diabaikan.

Kedua, efek Barnum. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang menganggap deskripsi umum sebagai gambaran yang sangat spesifik tentang dirinya. Pernyataan seperti sering memikirkan banyak hal atau kesulitan mengungkapkan perasaan, misalnya, dapat dirasakan cocok oleh banyak orang.

Ketiga, algoritma media sosial. Ketika seseorang berulang kali menonton konten mengenai gangguan tertentu, platform dapat merekomendasikan video serupa. Paparan berulang membuat informasi semakin akrab dan berpotensi memperkuat keyakinan, meskipun akurasi kontennya belum terjamin.

Keempat, kebutuhan memahami pengalaman diri. Label psikologis terkadang memberikan kelegaan bagi orang yang selama ini kesulitan menjelaskan apa yang dirasakan. Dukungan komunitas daring juga bisa membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Namun, rasa cocok atau lega setelah menemukan suatu label bukan bukti bahwa seseorang memiliki gangguan klinis.

Editor : Ryan Haryanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4 5

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network