Apa Itu Self-Diagnosis? Psikolog UM Jelaskan Bahaya Diagnosis Mandiri

Ryan Haryanto
Psikolog UM Noventia Sekar Pratiwi mengingatkan bahaya diagnosis mandiri gangguan mental dari konten medsos. (Foto:: Diolah iNews Malang)

MALANG, iNewsMalang.id - Merasa sulit fokus lalu mengira mengalami ADHD. Suasana hati berubah-ubah dan langsung menduga bipolar. Atau merasa tidak nyaman melihat meja berantakan, kemudian menyebut diri sendiri mengidap obsessive-compulsive disorder (OCD).

Kebiasaan melabeli diri dengan istilah gangguan mental seperti itu semakin mudah ditemui di era media sosial. Informasi tentang kesehatan mental memang lebih mudah diakses. Namun, mengenali gejala tidak sama dengan menegakkan diagnosis.

Psikolog klinis Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM) Noventia Sekar Pratiwi, M.Psi., Psikolog, mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan kondisi psikologis berdasarkan konten yang ditemui di internet.

Menurut dia, pengalaman yang terasa cocok dengan gejala tertentu perlu dilihat secara menyeluruh. Mulai konteks kemunculan, durasi, intensitas, hingga dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari.

“Mengenali gejala psikologis merupakan langkah awal yang baik, tetapi tidak berarti seseorang dapat langsung menyimpulkan bahwa dirinya memiliki gangguan tertentu,” jelas Noventia dikutip iNews Malang.

Editor : Ryan Haryanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4 5

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network