November Jadi Bulan Sibuk Bung Tomo untuk Persiapkan Strategi dan Kekuatan Gempur Belanda

Avirista Midaada
.
Kamis, 10 November 2022 | 13:21 WIB
Sebelum pecah pertempuran November 1945, Bung Tomo lakukan diplomasi dan politik (Foto: Ist)

SURABAYA, iNewsMalang.id - Di bulan November 1945 menjadi hari-hari sibuk bagi Bung Tomo, ia kian menggebu melawan Belanda yang hendak kembali menduduki Indonesia.

Beragam cara dilakukan oleh Bung Tomo untuk membebaskan Indonesia kembali dari cengkeraman penjajah Belanda. Salah satunya menghimpun kekuatan dengan menggandeng beberapa organisasi.

Bung Tomo bukanlah sosok yang berpengalaman dibanding dengan Soekarno dan Mohammad Hatta yang telah malang melintang dalam perjuangan Indonesia, dan mengorganisir perjuangan. Tapi tekad Bung Tomo begitu kuat ia tak peduli, bahkan salah satu organisasi bentukannya menjadi yang sangat berpengaruh saat itu.

Dikutip dari buku "Bung Tomo : Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November" tulisan Abdul Waid, Bung Tomo pada 12 Oktober 1945 membentuk suatu organisasi bernama Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI). Bung Tomo pun didaulat menjadi ketua umum yang mengatur segala strategi dan gerakan melawan penjajah agar keluar dari Indonesia.

Dari namanya saja sudah terlihat organisasi bentukan Bung Tomo ini memang tampak jelas sebagai organisasi yang bertujuan mengusir penjajah.

Organisasi ini sengaja dibentuk untuk memberontak terhadap segala kebijakan penjajah yang masih menduduki bumi Indonesia. Sebelum Bung Tomo mendirikan BPRI, terdapat beberapa organisasi serupa ei Indonesia. Namun gaungnya masih kalah dibandingkan dengan BPRI.

Bahkan ada beberapa organisasi sebelumnya yang justru menyatakan bergabung dengan BPRI, misalnya organisasi pemuda Angkatan Pemuda Indonesia Gedung Klinter (APIK) pimpinan M. Siffun. Organisasi ini beranggotakan bekas seinendan di sekitar Kelurahan Kedungklinter.

Gerakan - gerakan organisasi ini juga menentang segala bentuk kebijakan penjajah. Namun karena melihat kiprah Sutomo, nama asli Bung Tomo bersama BPRI yang sangat fundamental dalam gerakan perjuangan melawan penjajah pada saat itu.

Apresiasi masyarakat pun begitu tinggi terhadap BPRI, beberapa kalangan masyarakat biasa, para ulama, serta para tokoh nasional, akhirnya organisasi APIK bersama pimpinannya M. Siffun, menggabungkan diri bersama ke BPRI, yang dipimpin oleh Sutomo.

Pada awal pemberontakannya, dinyatakan bahwa BPRI merupakan organisasi yang ekstrem dan radikal. Artinya organisasi itu memobilisasi rakyat jelata untuk bersama - sama melakukan pemberontakan.

Namun Bung Tomo menegaskan bahwa BPRI yang didirikannya akan melakukan pemberontakan dengan mempertaruhkan nyawa apabila kedaulatan Republik Indonesia dilanggar, serta kehormatan dan keselamatan pimpinan nasional yang sedang berdiplomasi terancam.

Dengan BPRI, sebenarnya secara politis Bung Tomo ingin mengorganisasi wakil - wakil kelompok masyarakat, yang bersifat anti-fasis dan anti Jepang, sebagaimana tercermin dalam susunan pimpinan organisasinya itu.

Dengan kendaraan BPRI, sebenarnya Bung Tomo berusaha menarik simpati kelompok buruh, tukang becak, para petani miskin, pedagang asongan, pedagang kecil di pasar, dan semua kelompok kecil lainnya. Bung berharap mereka bisa bergabung dengan BPRI atau minimal mengenal gagasan dan gerakan BPRI.

Selain berjuang angkat senjata dengan melakukan pemberontakan, BPRI juga kerap hadir dalam perundingan - perundingan di masa revolusi fisik antara tahun 1945 - 1949. BPRI hadir melakukan jihad yang bersifat politis dan menyentuh aspek - aspek fundamental dalam ketahanan negara Indonesia.

Bahkan berkat sepak terjang BPRI baik melalui perundingan dengan pemberontakan, tokoh pejuang yang sangat berpengaruh saat itu bahkan turut merestui pembentukan BPRI.

Tokoh pejuang bernama Mayor General Professor Moestopo ini adalah seorang dokter gigi Indonesia, pejuang kemerdekaan, dan pendidik yang kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
 

Editor : Arif Handono

Follow Berita iNews Malang di Google News

Bagikan Artikel Ini