Pengangguran Pemuda di Kota Pasuruan Masih Tinggi, Program Dinilai Belum Efektif
PASURUAN, iNews.ID – Upaya pengembangan potensi pemuda di Kota Pasuruan belum sepenuhnya berdampak pada penurunan angka pengangguran. Kondisi ini mengemuka dalam sarasehan yang digelar DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan, Sabtu (18/4/2026) malam.
Wakil Ketua Bidang Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan, Moch. Agus Wahyudi, menilai terdapat kesenjangan antara program pemberdayaan pemuda dengan hasil di lapangan.
Menurut dia, meski sektor kepemudaan sudah masuk prioritas pembangunan dalam LKPJ 2025, dampaknya belum signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.
Pria yang akrab disapa Bayu Jordan itu menyebut berbagai program telah dijalankan, mulai pelatihan kewirausahaan, penguatan organisasi kepemudaan, hingga kegiatan produktif lintas sektor. Namun, persoalan mendasar masih belum teratasi.
Data menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Pasuruan pada 2025 belum mencapai target. Dari target 4,50 persen, realisasinya masih di angka 4,59 persen. Meski turun tipis dari tahun sebelumnya yang mencapai 4,63 persen, capaian tersebut dinilai belum memuaskan.
“Ini menunjukkan ada ketimpangan antara potensi yang dibangun dengan hasil yang dirasakan. Pemuda terus didorong, tapi akses kerja nyata belum terbuka luas,” ujarnya.
Di sisi lain, Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Kota Pasuruan justru melampaui target. Tercatat, IPP mencapai 70,22 dari target 57,00. Namun, tingginya indeks tersebut belum berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja di kalangan pemuda.
Program pembinaan pemuda juga dinilai belum optimal. Dari total 1.183 pemuda yang mendapat pembinaan, hanya 32 orang yang berhasil membangun usaha mandiri. Sementara itu, penyediaan fasilitas penunjang ekonomi baru terealisasi 3 dari target 5.
“Pembinaan sudah berjalan, tapi dampak ekonominya masih terbatas. Belum menyentuh skala yang signifikan,” tegasnya.
Ia menilai, persoalan utama terletak pada belum optimalnya konversi program menjadi peluang kerja riil. Selain itu, lonjakan jumlah angkatan kerja pada 2025 turut memicu peningkatan jumlah pencari kerja yang belum sepenuhnya terantisipasi.
Editor : Ryan Haryanto