Warga Bersihkan Halte Kumuh di Kota Malang, Jadi Sentilan untuk Pemerintah
MALANG, iNewsMalang.id - Kondisi halte bus yang kotor dan tak terawat di Kota Malang mendorong warga turun tangan. Tiga komunitas lokal bergerak membersihkan dan mengecat ulang fasilitas tersebut pada Sabtu (25/4/2026), sebagai bentuk kepedulian sekaligus kritik terhadap pengelolaan ruang publik.
Aksi ini digagas oleh Transport for Malang, KP Alternatif, dan Aliansi Malang. Sekitar 10 relawan terlibat dalam kegiatan gotong royong yang menyasar halte-halte dengan dinding penuh coretan vandalisme dan stiker liar.
Mereka membersihkan permukaan halte dan mengecat ulang agar kembali rapi dan layak digunakan.
Perwakilan Transport for Malang, Wahyu Styo Pratama, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk “sentilan” bagi Pemerintah Kota Malang. Dia menilai pembiaran fasilitas umum dalam kondisi kumuh dapat berdampak pada citra kota.
Wahyu mencontohkan halte di Jalan Veteran yang berada di jalur utama dan mudah terlihat oleh pengguna jalan, namun kondisinya dinilai sangat kumuh.
“Kami memutuskan untuk langsung mengecatnya kemarin,” ujar Wahyu saat dikonfirmasi pada Minggu (26/4/2026).
Seluruh kebutuhan aksi tersebut ditanggung secara mandiri oleh komunitas melalui iuran kas. Biaya yang dikeluarkan diperkirakan berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu.
Wahyu berharap pemerintah lebih responsif, mengingat Malang merupakan salah satu kota tujuan wisata yang seharusnya didukung fasilitas publik yang terawat.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, kerusakan dan kekumuhan lebih banyak ditemukan pada halte lama. Kondisi ini berbeda dengan halte baru di jalur Bus TransJatim yang relatif bersih.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menjelaskan adanya kendala kewenangan dalam pengelolaan halte tersebut.
“Halte-halte tersebut masih merupakan aset Pemerintah Provinsi Jawa Timur,” ucap Widjaja.
Ia menyebut Pemkot Malang belum menerima serah terima aset sehingga secara administratif tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pengelolaan maupun perbaikan.
Editor : Ryan Haryanto