Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan, Merawat Ingatan agar Sejarah Kelam Tak Terulang
MALANG, iNewsMalang.id - Empat tahun berlalu, Tragedi Kanjuruhan masih menyisakan pelajaran panjang. Bukan hanya bagi keluarga 135 korban meninggal dunia, tetapi juga bagi masyarakat tentang keselamatan, kemanusiaan dan keadilan.
Pesan itu kembali mengemuka dalam doa bersama memperingati empat tahun Tragedi Kanjuruhan di kawasan Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Kamis (1/10/2026) malam.
Masyarakat dari Kota Malang, Kota Batu hingga Kabupaten Malang berkumpul untuk mendoakan korban sekaligus menjaga ingatan atas tragedi yang terjadi pada 1 Oktober 2022 tersebut.
Sekretaris Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK), Cholifatul Nur mengatakan, peringatan rutin digelar agar tragedi yang merenggut 135 nyawa itu tidak dilupakan.
“Ini untuk merawat ingatan bahwa ada kasus besar di Malang yang menyebabkan 135 orang meninggal,” kata Cholifatul.
Bagi keluarga korban, merawat ingatan juga berarti menjadikan Tragedi Kanjuruhan sebagai bagian dari pembelajaran sejarah. Generasi berikutnya diharapkan mengetahui peristiwa tersebut agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Rangkaian peringatan dimulai sejak siang dengan khataman Al Quran. Kegiatan berhenti sementara saat waktu salat Magrib, kemudian dilanjutkan dengan selawat dan tausiyah.
Peringatan dibuka untuk masyarakat umum. Sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) juga diundang agar bisa bertemu langsung dengan keluarga korban.
“Kami sengaja mengundang Forkopimda supaya mengenal keluarga korban,” ujarnya.
Di tengah doa dan upaya menjaga ingatan, tuntutan penegakan keadilan masih disuarakan keluarga korban.
Salah seorang keluarga korban, Minsai’in berharap proses hukum dilakukan secara adil tanpa melihat latar belakang maupun profesi pihak yang terlibat.
“Yang kami tunggu adalah keadilan ditegakkan. Semua harus diusut sesuai hukum,” katanya.
Peringatan empat tahun Tragedi Kanjuruhan tidak hanya berlangsung di stadion. Doa bersama juga digelar di kawasan Alun-Alun Tugu, Kota Malang.
Masyarakat yang hadir mendoakan 135 korban. Pada malam hari, lilin dinyalakan sebagai simbol duka sekaligus pengingat atas tragedi tersebut.
Empat tahun setelah tragedi, peringatan Kanjuruhan membawa pesan penting bagi generasi berikutnya. Sepak bola dan ruang publik harus menjadi tempat yang aman, sementara hilangnya 135 nyawa menjadi pelajaran agar tragedi serupa tidak terulang.
Editor: Ryan Haryanto