Berawal dari Asongan Kaos Bromo, Bram Kini Punya Konveksi Sendiri

Ryan H
Bupati meninjau proses sablon kaos di konveksi Bram, melihat langsung produksi berbasis DTF. (Foto: iNews Malang/Ryan H)

PROBOLINGGO, iNewsMalang.id  – Sukef (47), atau yang akrab dipanggil Bram, pernah menjalani fase paling dasar dalam berdagang yakni menjajakan kaos secara asongan di kawasan Gunung Bromo. Tahun 2014, ia memulai segalanya dari nol, menawarkan dagangan ke wisatawan Bromo satu per satu.

Usaha itu tak berhenti di situ. Bram pelan-pelan beralih dari pedagang menjadi produsen. Ia merintis konveksi rumahan di Dusun Pusung Lor, Desa Wringinanom, Kecamatan Kuripan. Kini, usahanya berkembang dan menyerap 15 tenaga kerja dari lingkungan sekitar.

“Dulu saya jualan sendiri, keliling sebagai asongan. Sekarang alhamdulillah sudah ada konveksi sendiri dan bisa mempekerjakan 15 orang tetangga sekitar,” ujarnya.

Di balik langkahnya membangun usaha, Bram mengaku terinspirasi dari pengalaman masa lalu. Ia pernah mengambil stok kaos (kulakan) dari konveksi yang lebih dulu berkembang di Desa Boto, Kecamatan Lumbang. Dari sana, ia belajar melihat peluang sekaligus memahami alur produksi.

“Dari situ saya kepikiran, kenapa tidak bikin sendiri. Akhirnya pelan-pelan belajar sampai bisa seperti sekarang,” imbuhnya.

Produk yang dihasilkan masih setia pada pasar awalnya: yakni kaos bertema Gunung Bromo untuk wisatawan. Bedanya, proses produksi kini lebih modern. Bram menggunakan metode sablon Direct Transfer Film (DTF) yang lebih cepat dan fleksibel.

Dengan teknologi ini, pesanan tidak harus dalam jumlah besar. Satuan pun bisa dilayani. Desain dicetak di atas film khusus, lalu ditempel ke kaos dengan suhu sekitar 160 derajat Celsius. Prosesnya singkat, hanya 10–15 detik hingga hasil sablon menempel sempurna.

“Sekarang pakai DTF karena lebih mudah. Bisa cetak satuan, tidak harus menunggu pesanan partai besar seperti dulu,” jelasnya.

Perkembangan usaha Bram menarik perhatian Bupati Probolinggo, dr Mohammad Haris (Gus Haris). Saat berkantor di Kecamatan Kuripan, Selasa (5/5/2026), ia menyempatkan diri melihat langsung aktivitas produksi di lokasi.

Gus Haris menilai, langkah Bram mencerminkan pelaku UMKM yang adaptif terhadap perubahan. Menurutnya, pemanfaatan teknologi menjadi kunci agar usaha kecil bisa terus tumbuh.

“Ini contoh UMKM yang adaptif. Dengan digitalisasi, produksi lebih efisien dan pasar yang dijangkau bisa lebih luas,” katanya.

Pemkab Probolinggo, lanjut dia, akan mendorong kemudahan perizinan dan membuka akses pasar. Salah satunya dengan menghubungkan produk lokal ke sektor pariwisata, termasuk di kawasan Jembatan Kaca Bromo dan berbagai event wisata termasuk Bromo Sunset Music and Culture.

Bram mungkin memulai dari jalanan. Tapi, inspirasi dari tempat ia dulu kulakan, ditambah konsistensi dan keberanian beradaptasi, membawanya naik kelas. Dari menjajakan kaos, kini ia memproduksi dan memberdayakan. Sebuah lompatan yang tumbuh dari proses panjang, bukan kebetulan.

Editor : Ryan Haryanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network