KOTA BATU, iNewsMalang - Festival musik tak melulu soal panggung dan penonton. Partilibur di Kota Batu membuktikannya. Dalam dua hari penyelenggaraan, 1-2 Agustus 2026, sekitar 15 ribu orang datang. Bersamaan dengan itu, 70 UMKM ikut berjualan dan perputaran ekonomi diprediksi mencapai miliaran rupiah.
Festival yang digelar di Batu Night Spectacular (BNS) tersebut menjadi ruang temu antara musik, wisata, dan industri kreatif. Penonton tidak hanya datang menikmati pertunjukan, tetapi juga menggerakkan transaksi di area festival dan sektor usaha di sekitarnya.
Festival Director Partilibur Gahtan Thoriq mengatakan, jumlah penonton yang mencapai 15 ribu orang menunjukkan besarnya potensi festival musik ketika dikolaborasikan dengan destinasi wisata.
Kota Batu dinilai memiliki modal kuat untuk mengembangkan event berbasis ekonomi kreatif. Selain sudah dikenal sebagai kota wisata, Batu memiliki banyak destinasi yang dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang datang untuk menghadiri festival.
“Malang menjadi salah satu kota dengan festival terbanyak dalam enam bulan terakhir. Sementara Batu memiliki banyak destinasi wisata, tetapi belum banyak festival yang digelar di sini,” kata Gahtan dalam keterangan pers, Minggu malam (9/8/2026).
Besarnya jumlah pengunjung juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha. Sebanyak 70 UMKM dari wilayah Malang Raya dilibatkan dalam Partilibur. Transaksi yang muncul selama festival diperkirakan menghasilkan perputaran uang hingga miliaran rupiah.
Ekosistem yang digerakkan pun tidak hanya UMKM. Partilibur melibatkan 105 penampil yang dipilih melalui proses kurasi. Mereka berasal dari hasil submission serta musisi dari dalam dan luar Jawa Timur.
Sekitar 40 persen penampil merupakan musisi lokal Jawa Timur. Komposisi tersebut sengaja dibuat untuk memberi ruang lebih besar kepada talenta lokal sekaligus menghadirkan pertunjukan yang berbeda.
Gahtan menyebut pihaknya juga mencari musisi yang belum pernah atau sudah lama tidak tampil di Jawa Timur. Tujuannya agar Partilibur tidak hanya menjadi festival dengan nama-nama yang sudah dikenal, tetapi juga menjadi ruang munculnya warna baru.
Dukungan Pemerintah Kota Batu turut menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan. Proses perizinan hingga keterlibatan sejumlah pihak dalam membeli tiket disebut berjalan lancar.
“Dukungan Pemerintah Kota Batu sangat baik. Mulai dari proses perizinan berjalan lancar, hingga banyak pihak dari pemerintah yang ikut membeli tiket. Semua berjalan dengan baik,” ujarnya.
Efek ekonomi Partilibur juga tak berhenti di Kota Batu. Festival tersebut melibatkan pekerja kreatif dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mulai tim produksi, musisi, hingga pelaku UMKM mendapat ruang dalam penyelenggaraan.
“Partilibur merupakan gerakan kolektif dari teman-teman di Jawa Timur. Banyak tim produksi yang terlibat berasal dari Jawa Timur dan kami juga memberi ruang bagi band-band lokal untuk tampil,” katanya.
Partilibur berawal dari Lumajang pada 16 Januari 2022. Mengusung tagline Suara Dari Timur, event tersebut tumbuh dari gerakan anak muda lokal dan perlahan berkembang menjadi salah satu festival musik yang memiliki basis penonton di Jawa Timur.
Selama empat tahun perjalanan, Partilibur telah menggelar tujuh konser, tiga festival besar, dan tiga festival budaya. Lebih dari 160 performer dan 100 UMKM pernah terlibat. Sementara jumlah penonton secara keseluruhan telah menembus lebih dari 36 ribu orang.
Perpindahan sebagian kegiatan ke Batu bukan berarti Partilibur meninggalkan Lumajang. Gahtan memastikan pihaknya tetap menyiapkan aktivasi dan konsep berskala lebih kecil di kota asal festival tersebut.
“Kami memang tumbuh dari Lumajang, dan di sana ruang untuk mengekspresikan festival masih sangat terbatas. Setelah Partilibur edisi keempat, kami memutuskan untuk hadir di Batu. Namun, bukan berarti kami meninggalkan Lumajang,” jelasnya.
Ke depan, Partilibur membuka peluang menyambangi daerah lain di Jawa Timur. Konsepnya akan disesuaikan dengan karakter dan potensi masing-masing daerah.
Target akhirnya bukan sekadar memperbanyak agenda festival. Partilibur ingin membangun ekosistem musik dan industri kreatif Jawa Timur yang lebih terkoneksi dengan pelaku industri dari Jakarta maupun daerah lain.
“Kami ingin ekosistem musik di Jawa Timur semakin terkoneksi dengan teman-teman dari Jakarta dan daerah lainnya. Harapannya, koneksi ini dapat membuka peluang kolaborasi sekaligus memperkuat perkembangan ekosistem musik lokal,” pungkas Gahtan.
Editor : Ryan Haryanto
Artikel Terkait
