KOTA BATU, iNewsMalang.id - Pemandangan bagus saja tak cukup. Desa wisata di Kota Batu kini dituntut punya “alasan” yang membuat wisatawan mau datang, tinggal lebih lama, lalu kembali lagi.
Karena itu, Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu mulai mendorong desa wisata naik kelas. Bukan hanya mempercantik destinasi, tetapi juga membenahi orang-orang yang mengelolanya.
Kepala Disparta Kota Batu Onny Ardianto mengatakan penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu pekerjaan utama. Pengelola desa wisata, termasuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan badan usaha milik desa (BUMDes), rutin mendapat pembekalan.
Mulai hospitality, bahasa asing, storytelling hingga mitigasi bencana. Kemampuan tersebut dianggap penting karena wisatawan datang bukan hanya untuk melihat objek, melainkan mencari pengalaman.
“Materinya beragam, mulai standar pelayanan atau hospitality, kemampuan bahasa asing, storytelling, hingga mitigasi bencana di kawasan wisata,” ujar Onny, Jumat (28/8/2026).
Pembenahan juga menyentuh urusan dapur pengelolaan. Disparta mendampingi desa menyusun standard operating procedure (SOP) dan regulasi agar pengelolaan destinasi tidak berjalan seadanya.
Yang tak kalah penting, setiap desa diminta punya ciri khas. Disparta tidak ingin desa wisata di Kota Batu menawarkan produk yang terasa sama.
Potensi lokal justru didorong menjadi identitas. Ada yang mengandalkan petik apel, kriya, agrowisata bunga hingga olahraga ekstrem. Tinggal bagaimana potensi tersebut dikemas menjadi pengalaman yang menarik.
Cara menjualnya pun ikut berubah. Promosi digital didorong agar identitas masing-masing desa lebih mudah ditemukan wisatawan.
Namun, Disparta tak hanya mengandalkan unggahan di media sosial. Promosi juga dilakukan dengan mengajak agen perjalanan, media dan content creator datang langsung melalui fun trip atau familiarization trip (famtrip).
Mereka diajak menginap di homestay, mengikuti aktivitas warga dan menikmati kearifan lokal. Bukan sekadar datang, foto, lalu pulang.
Pengalaman itulah yang diharapkan menjadi “jualan” utama desa wisata. Sebab, cerita dari orang yang merasakan langsung dinilai lebih kuat untuk mengenalkan destinasi kepada calon wisatawan.
18 Desa Sudah Kategori Maju
Upaya naik kelas juga terlihat dari klasifikasi desa wisata. Dari 24 desa dan kelurahan wisata di Kota Batu, 18 di antaranya kini masuk kategori maju. Enam lainnya sudah berada di level mandiri.
“Dari 24 desa dan kelurahan wisata di Kota Batu, saat ini sudah ada 18 desa wisata kategori maju dan enam desa wisata kategori mandiri,” kata Onny.
Pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan fasilitas tak tertinggal. Akses jalan, penunjuk arah, toilet, balai pertemuan hingga wahana pendukung masih menjadi bagian dari pengembangan.
Desa dengan potensi dan prestasi juga didorong naik panggung lebih tinggi. Ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) menjadi salah satu sasaran. Tak berhenti di tingkat nasional, peluang mengikuti forum maupun penghargaan pariwisata ASEAN juga dibuka.
Bagi Disparta, penghargaan bukan tujuan akhir. Pengakuan hanya menjadi pintu untuk memperlebar promosi dan membuka peluang investasi.
Ujungnya tetap sama: membuat desa wisata punya daya tawar. Bukan sekadar menjadi tempat persinggahan wisatawan, tetapi mampu membuat mereka tinggal, berbelanja, menikmati aktivitas warga, dan membawa pulang pengalaman.
Jika itu tercapai, desa wisata tak hanya menjual panorama. Yang dijual adalah pengalaman. Dan dari situlah ekonomi warga bergerak.
Editor : Ryan Haryanto
Artikel Terkait
