MALANG, iNewsMalang.id - Hipertensi tak melulu dipicu pola makan dan gaya hidup. Stres serta kecemasan yang tak terkelola juga bisa menjadi pemantik naiknya tekanan darah. Persoalan itulah yang ditemukan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) di RW 04 Kelurahan Bakalankrajan, Kecamatan Sukun, Kota Malang.
Data Posbindu setempat menunjukkan, 41 dari 68 warga pra-lansia dan lansia yang menjalani pemeriksaan teridentifikasi mengalami hipertensi. Artinya, lebih dari 60 persen warga dalam kelompok tersebut memiliki tekanan darah tinggi.
Temuan itu kemudian mendorong Mahasiswa Kelompok 13 Pengabdian kepada Masyarakat (PkM)/KKN Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UB menggelar program Sehat dan Gembira Hadapi Hipertensi (SEHATI).
Program yang diawali dengan pembekalan pada 17 Juli lalu itu menggandeng Kader Posyandu Melati 4 Integrasi Layanan Primer (ILP) serta perangkat RW 04 Bakalankrajan.
Mahasiswa tidak hanya memberikan pemahaman mengenai hipertensi. Mereka juga mengajak warga mengenali kaitan antara kondisi psikologis dengan tekanan darah.
Sebab, meski kondisi kesehatan jiwa warga secara umum relatif terkendali, persoalan stres dan kecemasan masih belum banyak mendapat perhatian. Padahal, kondisi tersebut berpotensi memicu lonjakan tekanan darah.
Sebanyak 33 warga dan kader posyandu mengikuti kegiatan itu. Jumlah tersebut bahkan melampaui target awal yang hanya mengundang 30 peserta.
Sebelum masuk sesi utama, peserta diajak melakukan Brain Gym untuk menyegarkan fokus. Setelah itu, mereka mempraktikkan Relaksasi Benson dan Relaksasi Otot Progresif.
Teknik tersebut diperkenalkan sebagai cara sederhana untuk membantu mengendalikan stres dan kecemasan secara mandiri di rumah.
Suasana pelatihan berlangsung cair. Para peserta mengikuti setiap gerakan dan tahapan relaksasi yang dipandu mahasiswa KKN.
”Saya jadi lebih rileks dan senang bisa ikut acara ini,” ujar salah seorang peserta saat sesi evaluasi.
Ketua RW 04 Kelurahan Bakalankrajan Sumaji mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurut dia, penanganan hipertensi tidak cukup hanya mengandalkan pemeriksaan dan fasilitas kesehatan.
Kesadaran warga untuk menjaga kondisi psikologis juga perlu dibangun. Terutama bagi warga yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi.
”Kesehatan warga, khususnya dengan riwayat hipertensi, tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga pada kesadaran dan kebiasaan mengatasi stres,” kata Sumaji.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti setelah program KKN selesai.
”Kami berharap warga dapat mandiri menerapkan manajemen stres ini di rumah,” lanjutnya.
Agar program tetap berlanjut, mahasiswa UB membagikan leaflet berisi panduan praktis teknik relaksasi dan manajemen stres. Panduan tersebut ditujukan bagi penderita hipertensi maupun anggota keluarga.
Kader Posyandu Melati 4 juga diharapkan dapat melanjutkan pendampingan kepada warga. Teknik relaksasi itu nantinya bisa kembali dipraktikkan dalam kegiatan posyandu rutin dan pemeriksaan kesehatan berkala.
Melalui program SEHATI, mahasiswa berharap warga tidak hanya memahami risiko hipertensi. Tetapi juga memiliki keterampilan sederhana untuk mengendalikan stres sebagai bagian dari upaya menjaga tekanan darah tetap stabil.
Editor : Ryan Haryanto
Artikel Terkait
