Karhutla Gunung Semeru Kian Meluas, 3.235 Pendaki Gagal Naik

Avirista Midaada
Petugas memadamkan karhutla di kawasan Gunung Semeru. (Foto: iNews Malang/BPBD Lumajang)

MALANG, iNewsMalang.id - Penutupan jalur pendakian Gunung Semeru akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak pada ribuan calon pendaki. Hingga pertengahan September, tercatat 3.235 orang yang sudah melakukan reservasi tidak bisa melakukan pendakian.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) menutup akses pendakian Gunung Semeru hingga Ranu Kumbolo sejak akhir Agustus. Penutupan dilakukan menyusul kebakaran yang terus meluas di kawasan taman nasional.

Pranata Humas BB-TNBTS Endrip Wahyutama mengatakan, jumlah tersebut merupakan pendaki yang telah memiliki reservasi untuk periode 27 Agustus hingga 14 September 2026.

“Total sejak 27 Agustus sampai 14 September nanti ada 3.220 WNI, dan 15 WNA (Warga Negara Asing), itu sudah maksimal pengunjung, karena tanggal 15 September kuota belum kami buka,” kata Endrip Wahyutama saat ditemui di Malang, Selasa (1/9/2026).

BB-TNBTS memberikan dua pilihan kepada pemesan yang terdampak penutupan. Mereka dapat mengajukan pengembalian biaya reservasi secara penuh atau menjadwalkan ulang pendakian setelah jalur kembali dibuka.

“Pilihannya pengembalian reservasi 100 persen yang ditransfer ke rekening pemesan utama, atau penjadwalan ulang reschedule, tanpa dikenakan biaya tambahan,” ungkap dia.

Sementara itu, kebakaran di kawasan Gunung Semeru memasuki hari ketujuh. Luasan lahan yang terdampak dilaporkan terus bertambah dan mencapai sekitar 592 hektare.

Kepala BB-TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, titik api tidak lagi hanya berada di sekitar Panggonan Cilik dan Tanjakan Cinta. Kebakaran juga terpantau merembet ke kawasan Kalimati, Gunung Kepolo, hingga Ayak-ayak.

Kondisi medan menjadi salah satu kendala utama pemadaman. Lokasi kebakaran berada di kawasan sulit dijangkau, sementara sumber air cukup jauh dari titik api. Angin kencang juga mempercepat pergerakan api.

“Pantauan kami masih ada titik api menyala di lokasi di atas. Ini sedang upaya dipadamkan karena memang kalau kita lihat lokasinya kan memang juga cukup jauh (dari sumber air), mencapai ke sana mobilisasi petugas pun membutuhkan waktu yang cukup lama,” ucap Rudijanta saat dikonfirmasi, Selasa (1/9/2026).

Petugas gabungan di lapangan mengandalkan pemadaman manual dengan peralatan seadanya. Mereka memukul api menggunakan ranting dan alat pemadam serta membuat sekat untuk mencegah kobaran meluas ke area lain.

Pemadaman melalui jalur udara yang sebelumnya sempat dilakukan juga belum dapat dilanjutkan. Helikopter yang digunakan untuk operasi water bombing dialihkan untuk menangani kebakaran hutan di Kalimantan.

“Penggunaan alat-alat juga kurang memungkinkan sehingga hanya mengandalkan peralatan untuk memukul api yang digunakan, memadamkan,” ucap Rudi.

Hingga kini, BB-TNBTS juga belum dapat memastikan penyebab kebakaran. Titik awal api diketahui muncul di Blok Ranu Kembang, kawasan sekitar Ranu Kumbolo, yang disebut bukan bagian dari fasilitas umum maupun jalur pendakian.

“Sampai saat ini memang kita belum bisa memastikan penyebab kebakaran yang terjadi, karena kalau kita melihat sekitar lokasi apinya, itu kan bukan di tempat yang menjadi fasilitas umum, bukan jalur pendakian,” tuturnya.

Petugas masih melanjutkan pemantauan dan pemadaman di sejumlah titik. Sementara itu, pembukaan kembali jalur pendakian Gunung Semeru masih menunggu perkembangan kondisi kebakaran di lapangan.

Editor : Ryan Haryanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network