Puluhan Animator Malang Belajar Langsung dari Praktisi Animasi Hollywood

Avirista Midaada
Sesi berbagi ilmu dan konsultasi animator Malang bersama praktisi animasi profesional. (Foto: iNews Malang/Avirista Midaada)

MALANG, iNewsmalang.id - Puluhan animator Malang Raya mendapat kesempatan belajar langsung dari praktisi industri animasi Amerika Serikat. Mereka dibekali strategi mengembangkan karya hingga menembus pasar internasional melalui program America Accelerates Animation Lab 2026 di Malang, Senin (19/10/2026).

Program yang digagas Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya itu menghadirkan Nicole West, Co-Founder sekaligus Head of Operations West Studio. Nicole berbagi pengalaman mengembangkan kekayaan intelektual atau Intellectual Property (IP) menjadi produk kreatif bernilai ekonomi.

Nicole bukan nama baru di industri animasi. Dia pernah terlibat dalam sejumlah proyek bersama DreamWorks Television Animation, DreamWorks Feature Animation, hingga perusahaan pengembang gim Electronic Arts.

Dalam kegiatan tersebut, Nicole memimpin sesi Creative IP Clinic dan membawakan materi bertajuk Behind the Art: A Producer’s Journey From DreamWorks to West Studio.

Peserta mendapat gambaran mengenai proses produksi animasi, pengembangan karakter, hingga strategi membawa karya kreatif ke pasar global.

Tak hanya mendengarkan materi, para animator juga mendapat pendampingan langsung melalui sesi Independent IP Project Development. Mereka berkesempatan mempresentasikan karya sekaligus menerima masukan dari mentor internasional maupun praktisi Indonesia.

Kegiatan berlangsung selama dua hari, Senin–Selasa (19-20/10/2026). Selain Nicole, panitia menghadirkan tiga mentor profesional Indonesia. Setiap peserta mendapat kesempatan berdiskusi dengan mentor selama tujuh menit.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan Khaidilla, siswa kelas XII National Leader School College, Malang. Dia mengaku baru pertama kali mengikuti program pengembangan animasi yang mempertemukannya langsung dengan praktisi industri internasional.

“Pengalaman baru. Sebelumnya saya belum pernah mengikuti program seperti ini dan jarang sekali ada di Malang. Saya bersyukur bisa bertemu Nicole West, Mas Wahyu, Aditya, dan mendapat banyak pengetahuan,” kata Khaidilla.

Dalam program itu, Khaidilla memperkenalkan karakter animasi berupa monster siput laut berwarna hijau. Karakter berukuran menyerupai manusia tersebut mampu berbicara bahasa Indonesia dan memiliki kepribadian yang terinspirasi dari dirinya.

Dari sesi mentoring, dia mendapat masukan agar tidak hanya berfokus pada latar belakang karakter. Pengembangan cerita dan potensi karakter untuk karya berikutnya juga perlu dipikirkan.

“Saya lebih banyak menceritakan sejarah bagaimana karakter itu dibuat, bukan bagaimana pengembangannya ke depan. Itu salah satu masukan dari Nicole West,” ujarnya.

Pengalaman serupa dirasakan Hanna Julita, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) asal Malang. Dia mendapat wawasan mengenai cara mengembangkan IP agar tidak berhenti sebagai karya animasi, tetapi juga menghasilkan keuntungan.

“Saya mendapat masukan dari Nicole West tentang cara mengembangkan dan memonetisasi IP agar bisa menghasilkan keuntungan. Salah satunya melalui pengembangan merchandise,” kata Hanna.

Sementara itu, Nicole West menilai animator Malang memiliki potensi besar untuk bersaing di industri kreatif internasional. Penilaian tersebut muncul setelah dia melihat karya peserta dan berdiskusi langsung dengan sejumlah animator.

Menurut Nicole, kekuatan animator Indonesia justru terletak pada keberanian mengangkat cerita dan karakter yang dekat dengan kehidupan masyarakatnya.

“Saya sangat antusias melihat cerita-cerita yang mengangkat tema tentang orang Indonesia untuk orang Indonesia. Potensinya jelas sangat besar. Mereka sangat kreatif,” ungkap Nicole.

Dia juga mengapresiasi keberanian peserta mengeksplorasi ide dan mengembangkan karakter di luar konsep yang sudah umum digunakan.

“Saya melihat orang-orang yang berani mengambil banyak risiko dengan kekayaan intelektual mereka dan benar-benar mendobrak batasan yang ada. Itu sungguh mengesankan dan inspiratif,” tuturnya.

Di sisi lain, Kepala Humas Konsulat Jenderal Amerika Serikat Courtney J. Woods menyebut Malang memiliki ekosistem industri kreatif yang potensial. Banyaknya animator muda menjadi modal untuk memperluas kerja sama dengan pelaku industri internasional.

Menurut Courtney, karya animator Indonesia berpeluang menjangkau pasar Amerika Serikat maupun negara lain. Salah satu jalurnya melalui festival film dan platform digital.

“Malang sudah terkenal sebagai kota kreatif. Kami memiliki banyak mitra di sini. Saya pikir IP dari kreator Indonesia bisa masuk ke pasar Amerika Serikat dan seluruh dunia melalui festival film maupun dunia daring,” kata Courtney, Senin (19/10/2026) petang.

Dia menambahkan, kerja sama Indonesia dan Amerika Serikat di sektor industri kreatif tidak hanya dilakukan melalui pelatihan. Kesempatan juga terbuka melalui program pendidikan dan pertukaran profesional.

Salah satunya Global Media Makers yang telah memiliki sejumlah alumni. Selain itu, terdapat International Visitor Leadership Program (IVLP) yang dapat menjadi sarana memperluas jejaring profesional.

“Kami memiliki program pertukaran Global Media Makers yang sudah menghasilkan banyak alumni. Ada juga International Visitor Leadership Program,” pungkasnya.

Editor : Ryan Haryanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network