PROBOLINGGO, iNewsMalang.id - Ada pesan khusus yang dibawa Karina Icha saat menghadiri Seven Beaches Festival 2026. Miss Celebrity International Ambassador 2025 itu meminta perempuan Probolinggo tak hanya menjadi penonton. Mereka harus berani berkarya dan ikut mengambil peluang dari berkembangnya sektor pariwisata.
Pesan tersebut disampaikan Karina saat pembukaan festival di Pantai Bentar, Desa Curahsawo, Kecamatan Gending, Sabtu (7/11/2026).
Perempuan asal Sulawesi Selatan itu mengaku sengaja meluangkan waktu datang ke Probolinggo meski masih memiliki agenda lain keesokan harinya.
“Saya hadir ingin memberikan dukungan kepada perempuan daerah. Bahwa perempuan daerah tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi saatnya kita maju membuktikan bahwa kita bisa jadi pelaku,” ujarnya.
Karina menilai Kabupaten Probolinggo memiliki potensi wisata dan budaya yang bisa dikembangkan. Termasuk melalui kegiatan seperti Seven Beaches Festival 2026 yang melibatkan pelaku ekonomi kreatif dan masyarakat pesisir.
Karena itu, dia ingin perempuan ikut mengambil bagian. Bukan hanya menikmati keramaian festival, tetapi juga memanfaatkan peluang usaha yang terbuka.
“Para perempuan, perempuan wajib berkarya, berdaya, dan berbudaya,” tegasnya.
Menurut dia, berkarya tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Perempuan bisa memanfaatkan keterampilan yang dimiliki. Salah satunya melalui industri kreatif seperti desain busana.
Karina bahkan sempat mengapresiasi desainer lokal yang menampilkan karyanya dalam rangkaian festival. Dia berharap karya tersebut terus dikembangkan sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan.
Model berbusana batik tampil memukau dalam peragaan busana Seven Beaches Festival 2026. (Foto: iNews Malang/Istimewa)
Begitu pula dengan pemberdayaan ekonomi. Karina mencontohkan usahanya sebagai perajin batik yang turut melibatkan masyarakat sekitar.
Dari usaha tersebut, perempuan mendapat kesempatan bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Tidak sepenuhnya bergantung pada pendapatan suami.
“Kita harus berdaya, kreatif, dan juga inovatif,” kata perempuan kelahiran Enrekang, 15 Mei 1994 itu.
Karina juga mengingatkan pentingnya meningkatkan pengetahuan. Sebab, keterampilan tanpa kemauan belajar akan sulit berkembang.
“Buku adalah gudang ilmu. Ketika kalian ingin berilmu, maka kuasailah buku,” ujarnya.
Satu pesan lainnya adalah menjaga budaya. Karina meminta perempuan tidak melupakan kesenian dan tradisi daerah di tengah perkembangan zaman.
Sendratari Dewi Ratu Segara memeriahkan pembukaan Seven Beaches Festival 2026 di Pantai Bentar. (Foto: iNews Malang/istimewa)
Menurut dia, kekayaan budaya justru bisa menjadi kekuatan pariwisata. Apalagi, Kabupaten Probolinggo memiliki beragam kesenian yang dapat diperkenalkan kepada wisatawan.
Karina sendiri pernah membawa misi serupa ke panggung internasional. Saat mengikuti Miss Celebrity International di Kuala Lumpur, Malaysia, dia memilih mengenakan busana adat Papua.
Busana tersebut dipilih untuk memperkenalkan kekayaan budaya Papua yang dinilainya masih jarang ditampilkan dalam ajang internasional. Sekaligus menegaskan bahwa Papua merupakan bagian dari NKRI.
Di hadapan pengunjung Seven Beaches Festival 2026, Karina juga membagikan perjalanan kariernya. Dia ingin menunjukkan bahwa perempuan dari daerah memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi.
Karina diketahui mengawali karier sebagai pemain film. Keputusannya mengikuti kontes kecantikan justru bermula dari saran seorang teman.
Dia kemudian mengikuti audisi mewakili Sulawesi Selatan. Setelah menjalani karantina di Jakarta, Karina berhasil menyabet gelar Miss Celebrity Indonesia pada 28 September 2025.
Gelar tersebut membawanya ke kompetisi internasional di Kuala Lumpur. Di sana, dia bersaing dengan peserta dari sejumlah negara. Di antaranya Venezuela, Tiongkok, dan Thailand.
Hasilnya tidak mengecewakan. Pada final 22 Desember 2025, Karina dinobatkan sebagai Miss Celebrity International Ambassador. Padahal, target awalnya hanya menembus tiga besar.
Namun, gelar tersebut bukan diraih tanpa pengorbanan. Karina harus menjalani persiapan fisik yang cukup berat.
Dalam dua bulan, berat badannya turun delapan kilogram setelah menjalani diet dan olahraga. Dia juga harus berlatih berjalan menggunakan sepatu hak setinggi 15 sentimeter.
Latihan itu membuat kakinya cedera. Telinganya bahkan sempat terluka dan berdarah akibat penggunaan anting berukuran besar setiap hari.
Saat karantina internasional, tantangannya bertambah. Karina harus mengenakan sepatu hak tinggi hingga 12 jam sehari. Kakinya yang cedera terpaksa dilakban agar tetap bisa mengikuti kegiatan.
Pengalaman itulah yang ingin dia bagikan kepada perempuan Probolinggo. Bahwa prestasi membutuhkan keberanian, kerja keras, dan kemauan untuk terus belajar.
“Perempuan daerah sama dengan perempuan yang ada di ibu kota. Perempuan daerah memiliki sumber daya manusia,” katanya.
Karina mengaku tidak berasal dari keluarga konglomerat. Dia juga lahir dan tumbuh jauh dari gemerlap ibu kota. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya mengurungkan keinginan untuk berprestasi.
“Saya terlahir dari kabupaten yang kecil. Saya bukan anaknya Haji Isam, bukan anak konglomerat, tetapi saya bisa. Artinya, teman-teman semuanya juga bisa,” tegasnya.
Karena itu, dia meminta perempuan Probolinggo tidak minder dengan asal daerah maupun latar belakang keluarga. Kesempatan untuk maju, menurut dia, terbuka bagi siapa saja.
Karina pun mengaku senang bisa hadir di tengah masyarakat Probolinggo. Baginya, mahkota yang diraih bukan sekadar simbol kemenangan, tetapi juga menjadi jalan untuk berbagi pengalaman.
“Saya bangga dan saya cukup terharu bisa menginjakkan kaki saya di tanah Probolinggo,” ungkapnya.
Sementara itu, Seven Beaches Festival 2026 digelar selama sembilan hari, mulai 7 hingga 15 November. Ada tujuh destinasi yang dilibatkan. Yakni, Pantai Bohay, Pantai Bahak, Pantai Klasik, Pantai Bentar, Gili Ketapang, Pantai Greenthing, dan Pantai Duta.
Festival tersebut dibuka Bupati Probolinggo dr Mohammad Haris (Gus Haris). Pemkab berharap kegiatan itu tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir.
Terutama pedagang, pelaku UMKM, penyedia jasa wisata, hingga pengelola penginapan. Dengan begitu, meningkatnya kunjungan wisatawan juga berdampak pada pendapatan warga.
Harapan serupa disampaikan Karina. Dia ingin Seven Beaches Festival 2026 menjadi kesempatan bagi perempuan Probolinggo untuk menunjukkan karya sekaligus mengembangkan usaha.
“Sekali lagi, perempuan harus berdaya dan berkarya,” pungkasnya.
Editor : Ryan Haryanto
Artikel Terkait
