Alasan Arema FC Borong Pemain Timnas, ILeague Cup Masuk Bidikan
MALANG, iNewsMalang.id – Bursa transfer dimanfaatkan betul oleh Arema FC. Singo Edan tak hanya menambah amunisi, tetapi membangun fondasi skuad yang lebih kompetitif untuk musim 2026-2027. Targetnya jelas. Mengembalikan Arema ke papan atas sekaligus memburu gelar ILeague Cup pada tahun keempat pasca Tragedi Kanjuruhan.
Manajemen mendatangkan tiga pemain berlabel tim nasional. Yakni Robi Darwis, Alfeandra Dewangga, dan Syahrul Trisna. Robi serta Dewangga merupakan langganan Timnas Indonesia di berbagai kelompok usia. Sementara Syahrul pernah membela Tim Garuda dengan tujuh caps pada 2021.
Masuknya tiga pemain itu ikut mengangkat kualitas skuad Singo Edan. Nilai pasar tim kini mencapai sekitar Rp 71,18 miliar. Komposisi pemain pun disusun lebih dalam untuk menghadapi padatnya agenda kompetisi musim ini.
General Manager Arema FC Muhammad Yusrinal Fitriandi menegaskan, langkah agresif di bursa transfer bukan keputusan mendadak. Manajemen telah menyiapkan fase kebangkitan setelah tiga musim bertahan dalam situasi sulit pasca Tragedi Kanjuruhan.
“Memang iya kita sangat belajar banyak 3 tahun terakhir ini, struggle kita di tim itu luar biasa. Bagaimana tim Arema mempertahankan eksistensinya di liga ini setelah Tragedi Kanjuruhan,” kata pria yang akrab disapa Inal itu.
Selama tiga tahun terakhir, fokus Arema adalah menjaga klub tetap bertahan. Efisiensi anggaran dilakukan di berbagai sektor. Bersamaan dengan itu, manajemen membenahi tata kelola organisasi, kepanitiaan pertandingan, hingga membangun kembali komunikasi dengan kelompok suporter.
Memasuki tahun keempat, arah kebijakan berubah. Arema mulai kembali memasang target tinggi. Penyusunan skuad bahkan dimulai sekitar tiga bulan sebelum Super League musim lalu berakhir agar pelatih Marcos Santos memiliki waktu cukup membentuk tim sesuai kebutuhan.
“Saya manajemen dan direksi berkomitmen dan menargetkan pada diri kita sendiri setelah tragedi Kanjuruhan, itu maksimal 3 tahun kita cukup untuk mempertahankan eksistensi, di tahun keempat itu harus take off kembali, harus mengembalikan Arema sebelum ada covid dan tragedi,” ungkapnya.
Menurut Inal, kebangkitan Arema tidak hanya diukur dari posisi klasemen. Pembenahan juga dilakukan di sektor manajemen, penyelenggaraan pertandingan, hingga kolaborasi dengan unsur suporter.
“Kita ingin mengangkat Arema di tempatnya yang sepantasnya Arema. Itu harus didukung tim yang bagus juga, jadi di tahun ke-4 ini target sedikit tinggi, bukan hanya komposisi di klasemen tapi secara keseluruhan, dari manajemen kepanpelan semuanya bahkan kita sempat komunikasi dengan presidium berkolaborasi tentang suporter,” jelasnya.
Alasan lain Arema memperkuat kedalaman skuad adalah hadirnya ILeague Cup. Turnamen yang digelar bersamaan dengan musim kompetisi itu menjadi target tambahan selain memperbaiki pencapaian di Super League.
“Ada suatu turnamen lagi, kalau kita bicara liga resminya kan Super League, ini kayak turnamen mungkin nanti di bulan November, ada Ileague Cup itu itu memang di bulan November, itu memang hasil diskusi antara klub, operator liga, dan federasi,” terangnya.
Inal menambahkan, ILeague Cup juga akan dimanfaatkan sebagai tolok ukur perkembangan tim. Sebab, manajemen ingin memastikan proses kebangkitan Arema benar-benar berjalan sesuai rencana.
“Kalau tadi ada kompetisi lain yang bersamaan itu sebenarnya target kita juga di luar kompetisi liga, tapi lebih utamanya untuk evaluasi supaya progresnya bisa lebih baik setelah Tragedi Kanjuruhan,” tutupnya.
Editor: Ryan Haryanto