Bukan Cuma Pesona Bromo, Kopi Tengger Mulai Diperkenalkan Lewat Coffee Festival 2026
PROBOLINGGO, iNewsMalang.id - Nama Bromo selama ini lebih lekat dengan wisata alam. Namun, kawasan pegunungan tersebut juga menyimpan potensi lain yang mulai dikenalkan lebih luas, yakni Kopi Tengger.
Upaya itu dilakukan sekumpulan pemuda kreatif yang tergabung dalam Yayasan Masyarakat Peduli Kopi Probolinggo. Mereka menggelar Bromo Coffee Festival 2026 di Aworjiwa Coffee Bromo, Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Minggu (25/8/2026).
Festival dikemas dalam Manual Brewing Competition. Sebanyak 54 peserta ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Peserta datang dari berbagai daerah, bahkan ada yang berasal dari Jakarta.
Ketua pelaksana Coffee Festival 2026 Ainur Rusydi mengatakan, festival ini perlu digelar rutin agar kawasan penghasil kopi memiliki ruang untuk memperkenalkan produk sekaligus potensinya.
“Daerah penghasil kopi hampir semuanya punya festival. Bromo yang sudah tahun kedua memang harus dirutinkan,” kata Ainur.
Bagi para pemuda yang tergabung dalam yayasan tersebut, festival tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan menyeduh kopi. Kegiatan itu juga menjadi ruang untuk mempertemukan pelaku kopi sekaligus mengenalkan kopi dari kawasan Bromo-Tengger kepada peserta dan pengunjung dari luar daerah.
Kompetisi melibatkan enam juri yang memiliki latar belakang di dunia kopi. Mereka yakni Arif Rahman dari Surabaya, Prayuda Adiyaksa, Fery Ansyah, Alif dari Nuansa Coffee Kraksaan, Saiful Bahri dari Jember, dan Bayu Vance dari Malang.

Hasilnya, Gudang District dari Kraksaan menjadi juara pertama. Kisah Asa Coffee dari Probolinggo berada di posisi kedua, sedangkan Senja Kopi dari Malang meraih juara ketiga.
Anggota DPRD Jawa Timur sekaligus Ketua Umum Dewan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo Habib Mahdi turut hadir dalam festival tersebut. Dia menilai festival kopi bisa menjadi salah satu cara untuk mengangkat produsen sekaligus potensi kopi daerah.
Menurut Habib Mahdi, Kabupaten Probolinggo memiliki sejumlah sentra kopi. Selain Sukapura, produksi kopi juga banyak berasal dari Tiris, Krucil, Pakuniran, Kotaanyar hingga Sumber.
“Ini sangat bagus untuk membangkitkan para produsen, khususnya yang ada di Kabupaten Probolinggo,” ujar pria dengan hobi fotografi itu.
Dengan festival tersebut, para pemuda yang tergabung dalam Yayasan Masyarakat Peduli Kopi Probolinggo ingin kopi tak hanya menjadi komoditas. Kopi juga diharapkan menjadi bagian dari identitas kawasan dan ikut memperkenalkan potensi Bromo-Tengger kepada masyarakat lebih luas.
Editor : Ryan Haryanto