PROBOLINGGO, iNewsMalang.id – Festival Karapan Sapi Brujul di Lapangan Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Minggu (24/5/2026) lalu, tak hanya dipadati pecinta karapan sapi. Sejumlah keluarga muda juga memanfaatkan momentum itu untuk mengenalkan budaya lokal kepada anak-anak sejak dini.
Riuh penonton, lintasan sawah berlumpur, hingga derap sapi pacuan menjadi pengalaman baru bagi anak-anak yang diajak langsung ke arena. Suasana itu dinilai memberi pengenalan budaya yang lebih nyata dibanding sekadar melihat tayangan digital.
Ria Ruri Lestari mengaku sempat khawatir membawa anaknya Rayyana Mazaya Kalig yang masih berusia dua tahun ke arena karapan sapi karena kondisi lokasi yang ramai dan berlumpur. Namun, kekhawatiran itu tak terbukti.
“Raya justru sangat antusias, matanya terus mengikuti arah sapi berlari,” ujar guru SDN Sumber Wetan 2 Kota Probolinggo itu kepada iNews Malang.
Menurut dia, pengenalan budaya melalui pengalaman langsung dinilai lebih mudah membekas dalam ingatan anak.
Dalam karapan sapi, kerja tim jadi kunci. Tampak tim mengayunkan pecut dari belakang saat start dimulai. (Foto: iNews Malang/Ryan H)
Karapan Sapi Brujul memiliki ciri khas berbeda dibanding karapan sapi Madura. Arena pacu menggunakan lintasan sawah basah dengan lumpur setinggi mata kaki. Kondisi itu membuat joki harus menjaga keseimbangan di atas papan kayu atau brujul saat memacu sapi.
Karapan Sapi Brujul di Kota Probolinggo tetap jadi tradisi yang menarik perhatian warga. (Foto: iNews/Ryan H)
Festival tersebut juga menjadi arena pembinaan sapi pacuan muda. Sejumlah pemilik sengaja menurunkan sapi yang belum diproyeksikan menjadi juara untuk melatih mental tanding di lintasan berlumpur.
“Untuk event ini sapi kami memang belum masuk nominasi juara karena yang kami turunkan sapi baru, masih proses pengenalan lapangan dan melatih mental,” ujar Suciani, istri tokoh karapan Brujul, Sat Kerap.
Pada Festival Karapan Sapi Brujul kali ini, panitia menerapkan sistem gugur ganda. Peserta dibagi ke dalam Golongan A jalur pemenang dan Golongan B jalur kalah setelah babak penyisihan.
Di Golongan A, juara pertama diraih pasangan sapi Selamat Datang milik Hendrik dari Kademangan. Posisi kedua ditempati Sunbara milik P. Su dari Triwung Lor. Sedangkan peringkat ketiga diraih Super Sketer milik Cong Rofi dari Kademangan.
Sementara di Golongan B, pasangan sapi Anak Jawa milik Sol dari Klompang keluar sebagai juara pertama. Disusul Selamat Datang milik Radika dari Pohsangit Kidul dan SM milik Rofi’i dari Ketapang.
Ketua DPRD Kota Probolinggo Dwi Laksmi Syntha Kusumawardhani turut melepas pasangan sapi pada start awal perlombaan. Dia menilai Festival Sapeh Brujul bukan sekedar tontonan rakyat, tapi identitas budaya masyarakat Kota Probolinggo yang harus dijaga bersama.
“Karapan Sapi Brujul sekarang makin dikenal luas sebagai warisan budaya tak benda. Apalagi ada dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui BPK Wilayah XI Jawa Timur dalam festival ini,” ucapnya, Rabu (27/5/2026).
Perempuan yang akrab disapa Synta itu mengapresiasi paguyuban, komunitas, dan masyarakat yang tetap menjaga tradisi itu hidup. Dia berharap festival ke depan bisa dikemas lebih besar agar masuk kalender wisata unggulan Kota Probolinggo.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Karapan Sapi Prabulinggih sekaligus ketua panitia Imam Safii mengatakan keterlibatan keluarga muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi Karapan Sapi Brujul.
Menurut dia, kehadiran anak-anak dan kolaborasi kegiatan dengan lomba fotografi pelajar hingga mahasiswa menjadi cara memperkuat regenerasi budaya lokal.
Festival tahun ini juga diramaikan lomba fotografi pelajar dan mahasiswa se-Jawa Timur serta memperebutkan hadiah enam unit sepeda listrik bagi para pemenang.
Editor : Ryan Haryanto
Artikel Terkait
