“Kami ingin tempat ini inklusif. Mulai dari Rp15 ribu, pengunjung sudah bisa nongkrong, ngopi di atas awan, dan menikmati pemandangan spektakuler,” pungkas Ridho.
Pada akhirnya, Bromo Sky Cafe sedang menguji sebuah tesis baru di Bromo: bahwa pariwisata modern tidak harus mencabut akar produksi lokal, melainkan bisa menjadi agregator yang membawa hasil bumi rakyat ke level tertinggi.
Editor : Ryan Haryanto
Artikel Terkait
